Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Tohoko Burung Pitta Endemik Malut

Tohoko Burung Pitta Endemik Malut

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 22 Jan 2024
  • visibility 1.058

Di rerimbunan hutan Pulau Ternate, bersembunyi kekayaan keanekaragaman hayati burung. Melalui Pengamatan Kenakeragaman  Jenis  Burung  di  Beberapa  Objek   Wisata   di Kota  Ternate  dalam Upaya  Mengetahui dan Konservasi Habitat Burung Endemik  oleh Zulkifli Ahmad  dan kawan-kawan dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun Ternate pada 2017,menemukan ada 21 jenis burung di pulau Ternate. Burung burung itu berada di kawasan hutan beberapa tempat wisata seperti  ke arah barat hutan primer dan sekunder danau Tolire. Sebelah utara   kawasan danau Ngade yang banyak  pepohonan besar seperti Canarium sp., Ficus sp,  serta lokasi kawasan wisata Sulamadaha dan Tobolo yang sebagian besar telah diubah menjadi hutan sekunder.  

Selain burung tersebut ada kawasan tertentu di puncak pulau Ternate menjadi objek minat khusus pengamatan burung  karena terdapat jenis burung yang indah dan menawan. Misalnya di hutan Kelurahan Tongole Ternate Tengah. Di kawasan ini ada satwa burung endemik Maluku Utara yang menjadi incaran pengamat burung baik dalam dan luar negeri.

Burung yang menjadi sasaran pengamatan dan sering diabadikan melalui foto itu adalah burung pitta atau Paok Ternate. Burung ini oleh masyarakat Malut lebih mengenalnya dengan nama Burung Tohoko. Burung endemik Maluku Utara  ini memiliki warna khas dan mencolok.

Dengan nama ilmiah, E.r. cyanonota Tohoko terbilang sangat indah karena memiliki warna bulu paduan merah, biru, dan coklat. Warna ini membuatnya  makin eksotis ketika ditemui di hutan.   Karena keindahannya burung ini sangat memikat  para pengamat burung.

Akhmad David salah satu pengamat burung yang juga polisi kehutanan di Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata  saat mengisi diskusi soal burung endemik Maluku Utara belum lama ini menjelaskan bahwa, Pitta Ternate memiliki habitat di lantai hutan dengan ketinggian 200–900 mdpl. Di wilayah Pulau Ternate  untuk melihat burung indah ini bisa menjelajahi wilayah puncak Gamalama  terutama di hutan Kelurahan Moya dan  Tongole. Mengapa burung ini ada di kawasan hutan tersebut. Hal ini lebih karena vegetasi hutan hujan tropis di situ relative masih padat. 

Darman Sehe warga Tongole yang sering kali menjadi pemandu pengamatan burung di kawasan hutan kelurahan Tongole bercerita, dia tahu ada burung Tohoko ketika ada yang ingin mengamati  itu di kawasan hutan kampungnya. Karena itu dia bersama teman temannya kemudian mencari habitat pita Ternate dan dibuat pondok yang dijadikan tempat pengamatan burung. Dari sini kemudian dia  jadi pemandu jika ada yang ingin mengamati burung Tohoko.  

Tempat pengamatan Pitta Ternate di Tongole itu kini menjadi salah satu lokasi wisata minat khusus. Di sini  tidak hanya menjadi tempat pengamatan burung Tohoko tetapi juga burung  lain yang hidup di alam liar. 

Di Tongole  sudah dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengamati burung Tohoko dan burung liar lainnya. Untuk wisatawan mancanegera yang lakukan pengamatan burung  disini ada yang dari Singapura, Malaysia, Australia, Belanda, Amerika, dan Swiss.

Sekadar diketahui Pitta adalah sebuah keluarga, Pittidae, dari burung-burung pelintas yang sebagian besar ditemukan di Asia tropis dan Australasia, meskipun beberapa spesies hidup di Afrika.

Dikutip dari https://fatbirder.com/ornithology/pittidae-pittas/) Pitta memiliki struktur dan kebiasaan umum yang serupa, dan sering ditempatkan dalam satu genus. Pita terbagi menjadi tiga genera, Pitta, Erythropitta, dan Hydrornis. Nama ini berasal dari kata pitta dalam bahasa Telugu di India Selatan dan merupakan nama lokal umum yang digunakan untuk semua burung kecil.

Pitta berukuran sedang  dengan panjang 15 cm hingga 2 cm, dan kekar, dengan kaki yang kuat dan panjang. Memiliki ekor yang sangat pendek dan paruh yang gemuk dan sedikit melengkung. Sebagian besar, tetapi tidak semua, memiliki bulu berwarna cerah.

Pitta adalah burung yang cukup terestrial di lantai hutan basah. Makananya adalah siput, serangga dan mangsa invertebrata serupa. Burung pitta umumnya menyendiri dan bertelur hingga enam butir telur dalam sarang berbentuk bulat besar di pohon atau semak, atau terkadang di tanah. 

Sejumlah spesies pitta terancam punah. Salah satunya, Pitta Gurney, terdaftar sebagai terancam punah oleh IUCN; delapan spesies lainnya terdaftar sebagai rentan.

Ancaman utama bagi pitta adalah hilangnya habitat dalam bentuk deforestasi yang cepat.

Pitta berpita biru berukuran 15 cm hingga Pitta Raksasa, yang panjangnya bisa mencapai 29 cm.

Beratnya berkisar antara 42g hingga 210g. Pitta adalah burung bertubuh kekar dengan tarsi yang panjang dan kuat serta kaki yang panjang. Terdapat variasi yang cukup besar pada warna kaki dan tungkai, hal ini dapat digunakan oleh burung betina untuk menilai kualitas burung jantan. Sayapnya memiliki sepuluh garis primer yang umumnya membulat dan pendek, sedangkan empat spesies yang bermigrasi, lebih runcing. Meskipun pitta secara perilaku enggan untuk terbang, mereka adalah penerbang yang cakap dan bahkan kuat. Ekornya berkisar dari pendek hingga sangat pendek, dan terdiri dari dua belas bulu.

Tidak lazim untuk spesies lantai hutan, bulu burung pitta sering kali cerah dan berwarna-warni. Hanya satu spesies, Pitta bertelinga, yang memiliki warna samar pada burung dewasa dari kedua jenis kelaminnya. Dalam genus yang sama, tiga spesies lainnya memiliki bulu yang lebih kusam dari rata-rata. Seperti Hydrornis pitta lainnya, mereka memiliki dimorfisme seksual pada bulunya, dengan betina cenderung lebih menjemukan dan lebih samar daripada jantan. Di sebagian besar keluarga ini, warna-warna yang lebih cerah cenderung berada di bagian bawah, dengan warna-warna cerah di bagian pantat, sayap, dan penutup ekor bagian atas yang dapat disembunyikan. Kemampuan menyembunyikan warna-warna cerah dari pendekatan predator  adalah penting.

Yang paling penting bagi sebagian besar spesies adalah hutan dengan banyak tutupan, tumbuhan bawah yang kaya, dan serasah daun untuk makan. Burung pitta juga sering mengunjungi daerah dekat saluran air. Beberapa spesies mendiami rawa-rawa dan hutan bamboo.Pitta bakau, seperti namanya, adalah spesialis bakau. Sejumlah spesies merupakan spesialis hutan dataran rendah, misalnya pitta pelangi tidak ditemukan di atas ketinggian 400m, sedangkan spesies lain dapat ditemukan di ketinggian yang jauh lebih tinggi, misalnya Rusty-naped Pitta yang ditemukan hingga 2.600m. Hal ini bervariasi pada Fairy Pitta di seluruh wilayah jelajahnya, mencapai ketinggian 1.300m di Taiwan tetapi pada tingkat yang jauh lebih rendah di Jepang. Selain habitat alami, pitta juga dapat menggunakan habitat yang diubah oleh manusia, misalnya Pitta Bersayap Biru yang bermigrasi dan Pitta Berkerudung yang menggunakan taman dan taman kota di Singapura dan India. Peri Pitta bermigrasi dari Korea, Jepang, Taiwan, dan pesisir Cina ke Borneon.

Keanekaragaman pitta terbesar ditemukan di Asia Tenggara.  

Pitta aktif di malam hari, membutuhkan cahaya untuk menemukan mangsanya yang sering kali samar-samar. Namun demikian, sering ditemukan di daerah yang lebih gelap dan sangat tertutup. Umumnya ditemukan sebagai burung tunggal, bahkan burung muda pun tidak bergaul dengan induknya  kecuali jika diberi makan. Seperti kebanyakan burung, pitta adalah pembiak monogamy.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dicari Tim SAR, Warga Sanana Pulang Rumah dengan Selamat

    • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 454
    • 2Komentar

    Pencarian Salim Fatgehipon yang dilakukan Tim SAR Gabungan Sabtu malam. foto Tim SAR

  • Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

    • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 672
    • 0Komentar

    Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah? Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.     Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao […]

  • Potensi Geothermal Idamdehe Halmahera Barat  

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 938
    • 1Komentar

    Bisakah Menjawab Masalah Listrik di Malut? Potensi Geothermal Idamdehe Jailolo Halmahera Barat   Menjawab Masalah Listrik  di  Malut? Provinsi Maluku Utara memiliki luas wilayah mencapai 145.801,10 km² terdiri dari lautan 113.796,53 km² (69,08 persen) dan luas daratan 32.004,57 km² (30,92 persen). Provinsi   ini memiliki 10 Kota/Kabupaten yaitu Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Barat, […]

  • Pekan  Ini Tiga Warga di Malut Diterkam Buaya

    • calendar_month Rab, 3 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 573
    • 1Komentar

    Keindahan-Danau-Tolire-menyimpan-bahaya-jika-turun-dan-masuk-ke-dalam-area-ini-Pasalnya-buaya-yang-hidup-di-danau-ini-menginai-setiap-saat foto M Ichi

  • Kondisi Bumi Kian Mengkhawatirkan

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 564
    • 2Komentar

    Bencana Akibat Perubahan Iklim Makin Mangancam Bumi Rabu 23 Maret 2023 hari ini bertepatan dengan Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-73. Sebagai informasi, peringatan HMD yang jatuh pada 23 Maret merupakan tanggal yang mengacu pada konvensi meteorologi 23 maret 1950. Konvensi tersebut merupakan rangkaian panjang dari berdirinya badan cuaca di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa, yaitu Organisasi […]

  • AIR

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 623
    • 1Komentar

    Sungai Tayawi di Taman Nasional Ake Tajawe Sofyan Ansar

expand_less