Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Akademisi: Ancaman Ekosistem Halmahera Serius

Akademisi: Ancaman Ekosistem Halmahera Serius

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 9 Feb 2021
  • visibility 648

Maluku Utara sebagai daerah kaya bahan mineral,   menjadi incaran investor asing. Baru baru ini pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Samsudin Abd Kadir menyampaikan bahwa investasi asing masuk ke Maluku Utara yang mengelola tambang, sudah menginvestasikan modalnya di atas 100 triliun. Angka ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan menggenjot perekonomian Maluku Utara. Termasuk membuka lebar lapangan pekerjaan bagi masyarakat Maluku Utara. Belum lagi beredar  kabar   daerah ini dilirik salah satu perusahaan tambang raksasa PT Freeport   berencana  membangun smelternya di Maluku Utara dengan nilai investasi prestisus  Rp35. Triliuan.

Dilansir sejumlah media Jakarta, seperti dikutip dari (https://katadata.co.id/sortatobing/berita/601d72b94c425/freeport-hanya-tanggung-7-5-biaya-pembangunan-smelter-di-halmahera)  pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga itu akan dibangun di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera. Investasi ini diperkirakan akan menguntungkan PT Freeport Indonesia. Perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu hanya akan mengeluarkan biaya 7,5% dari total investasi yang mencapai US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 35 triliun. Sisa dana akan ditanggung mitranya asal Tiongkok, Tsingshan Steel. Targetnya, kedua perusahaan akan mencapai kesepakatan pada akhir Maret tahun ini.

Peta sebaran izin investasi tambang dan perkebunan monokultur di Maluku Utara sumber AMAN Malut

Akademisi Universitas Khairun Ternate Dr Asis Hasyim mengingatkan kepada pemerintah provinsi Malut untuk tidak jor-joran menerima investasi yang akhirnya menyengsarakan  masyarakat dan merusak  alam.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Khairun Ternate  doctor pada Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan konsetrasi ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan itu, menganggap kebanggan atas investasi yang begitu besar masuk  ke daerah ini,  menunjukkan pemerintah daerah sama halnya merasa bangga melihat semakin cepatnya laju penurunan tutupan hutan. Tidak itu saja,  ancaman  teralineasi-nya masyarakat Halmahera  dari ruang hidup, serta mendorong laju rusaknya ekosistem alam akibt ekstraksi sumberdaya  alam  secara massive.   

Dia bilang, dari sisi ekonomi pasti ada efek kejut. Baik  investasinya sendiri karena terdapat aliran sumberdaya finansial untuk pembangunan maupun reqruitment tenaga kerja yang dipandang pemerintah akan mengurangi pengangguran.  

Dalam soal ini  dia  ingatkan bahwa beberapa  kasus  yang terjadi di  wilayah tambang, bahkan  di Malut sendiri, kesejahteraan tampak saat investasi berlangsung sangat luar biasa. Tetapi sesungguhnya  yang didapat  itu kesejahteraan semu. “Istilahnya pseudo walfare,” katanya.

Menurutnya, dampak eksternalitas yang ditimbulkan akibat ekstraksi sumberdaya alam secara massive akan memberi tekanan ekologi yang besar. Beberapa  kasus tentang daerah dengan kekakayaan SDA justru terjerembab dalam kemiskinan pasca tambang. “Masyarakat hilang mata pencaharian akibat lahan dan laut pasca tambang diduga tidak lagi memberi kelestarian  lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati serta tumbuhan. Karenanya dibutuhkan perhatian serius pemerintah dalam memikirkan dan mengantisipasi pasca tambang.

“Tidak sekadar bangga dengan tingginya investasi di sektor tambang yang masuk ke Malut. Sebab, dikuatirkan  terjadi resource curse atau kutukan sumberdaya alam. Banjir di Halteng beberapa waktu lalu itu tak sekadar dilihat sebagai bencana alam. Sebab, riset menunjukkan bahwa bencana yang terjadi 80 persen disebabkan oleh variable antropogenik,  keserkahan atau ulah tangan manusia,” jelasnya. 

Hasil-kopra-warga-fritu-desa-yang-tak-jauh-dari-kawasan-tambang-IWIP.-Mereka-masih-bisa-panen-kelapa-karena-lahan-mereka-belum-dimasuki-tambang-foto-Mahmud Ichi-

Baginya Maluku Utara sebenarnya memiliki  potensi perikanan kelautan yang berlimpah. Juga punya leading sector pertanian. Tetapi yang terjadi selalu menjadikan tambang sebagai salah satu andalan. Ini yang membingungkan.  Ditambah lagi sistem pengawasan yang kurang maksimal dari instansi pemerintah seperti Dinas Lingkungan Hidup akibat anggaran pengawasan yang minim. 

“Soal anggaran ini pernah disampaikan Kadis DLH beberapa waktu lalu. Maka sesungguhnya dengan secara sadar kita sama halnya telah membangun kesepakatan untuk  memberi tekanan ekologi yang luar biasa kepada alam tapi tidak disertai pengawasan yang memadai. Ini sungguh sebuah keanehan,” cecarnya.

Perikanan Menjanjikan  Belum Diseriusi

Apa yang disampaikan Asis soal potensi perikanan ini juga disampaikan Profesr Dr Irvan Koda Dosen Fakultas Perikanan dan Keluatan Universitas Khairun Ternate. Menurutnya, Maluku Utara  kaya potensi perikanan dan kelautan. Tidak hanya perikanan tangkap dan potensi budidaya perikanan laut. Lahan budidaya perikanan air tawar, juga melimpah ruah. Besarnya potensi yang dimilki daerah yang lebih luas wilayah lautnya ini, ternyata miskin pemanfaatanya bagi kesejahteraan masyarakat.

Dia bilang  potensi lestari perikanan Maluku Utara mencapai 517.000 ton/tahun. Pemanfaatannya  baru mencapai 150.232 ton.

“Pemanfaatannya baru 29 persen  sementara yang belum  dimanfaatkan 71 persen,” terang  Irvan.Saat menyampaikan  materi dalam Seminar Nasional Perikanan Maluku Utara dan Tantangan Industri 4.0 di Ternate baru-baru ini,  dia  jelaskan  bahwa untuk perikanan tangkap, Maluku Utara memiliki potensi Standing Stock  mencapai 1.035.230 ton/tahun.  

Sementara sumberdaya ikan yang tertangkap nelayan di Maluku Utara juga ada sekira 98 jenis, di mana 74 diantaranya bernilai ekonomis penting. Sementara 20 jenis merupakan komoditi perikanan yang bernilai ekonomis tinggi.

“Maluku Utara juga punya  komoditi unggulan misalnya  tuna,  dan cakalang, rumput laut, kerapu, dan udang vannamei.  Secara keseluruhan potensi sumberdaya (standing Stock) = 1.035.230  ton / tahun,” jelasnya.

Potensi lainnya jumlah nelayan di Maluku Utara mencapai 19056 orang  dan pembudiddaya ikan 7439  dari total penduduk 1.25, 771 orang.

Potensi  tidak hanya di laut  dan air payau. Di wilayah darat juga memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan terutama  budidaya ikan air tawar.

Sayang hingga kini budidaya ikan air tawar belum diusahakan secara maksimal di Maluku Utara.

Hasil panen rumput laut oleh siswa siswi SMK Periikanan di Kecamatan Joronga Halmahera Selatan

Dia  berharap  kekayaan luar biasa yang belum tergarap ini,  ada keseriusan pemerintah Provinsi Maluku Utara dengan mengambil langkah-langkah strategis demi menyejahterakan  masyarakat terutama nelayan.   

“Perlu segera ada pembenahan sarana dan prasarana. Kapasitas SDM nelayan dan keluarga nelayan juga perlu diperhatikan. Inovasi teknologi juga ditingkatkan. Selain  itu nelayan harus diberikan modal usaha dengan adanya dukungan dan kebijakan pemerintah Daerah,” katanya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gelar Program Save The Small Island, Warga dan Walhi Malut Tanam Mangrove

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 264
    • 0Komentar

    LABUHA – Masyarakat Desa Gane Dalam Kecamatan Gane Barat Selatan Halmahera Selatan, melakukan gerakan menanam 20  ribu anakan pohon mangrove. Aksi menanam di lahan-lahan mangrove yang rusak akibat perambahan orang tidak bertanggungjawab itu,  dilakukan selama  dua hari Rabu (5/11) dan Kamis (6/11) lalu. Program selamatkan lingkungan dengan menanam mangrove ini,  dilakukan bersama  LSM Wahana Lingkungan Hidup […]

  • Saatnya Pariwisata Go Digital

    • calendar_month Jum, 27 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Cry Jailolo Ramaikan Ultah GenPI dan Pasar Teluk   Pada 25 November 2020 lalu,  Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Halmahera Barat dan Pasar Teluk, genap berusia dua tahun.  Dalam perayaan ulang tahun kedua itu banyak atraksi ditampilkan. Salah satunya seni tari Cry Jailolo  yang sudah go internasional itu. Rilis yang dikirimkan GenPi kepada kabarpulau.co.id/ menyebutkan, dengan […]

  • Tradisi Orang Tobaru Tanam Padi Lokal

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 708
    • 0Komentar

    Dua karung gabah teronggok di dapur Yosep Ugu (60). Gabah kering itu rencana diolah menggunakan mesin penggilingan padi di desa setempat.  Gabah padi   telah lama dikeringkan, tersimpan dalam karung dan baru dibawa ke kampung  sehari sebelumnya. “Di dalam gabah padi ini,  ada banyak jenis ikut tercampur. Ini sisa panen tahun lalu dan sampai sekarang belum  […]

  • Hati hati, Kawasan Wisata Dialihkan ke Asing

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Kawasan wisata Pulau Widi di Halmahera Selatan Maluku Utara

  • Kampanye Hari  Air Sedunia Lewat Konten Digital

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 438
    • 1Komentar

    Warga Lingkungan Ake Gaale Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara  akan merayakan Hari Air Sedunia 23 Maret nanti dengan beragam kegiatan. Diawali dengan kegiatan Workshop Makin Cakap Digital pada Selasa (14/3/2023) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya memiliki pemahaman dan pengetahuan soal pemanfaatan dan penggunaan  media social dan alat digital. Tidak […]

  • Kayu Besi di Hutan Halmahera yang Terancam  

    • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 1.014
    • 0Komentar

    Merbau atau ipil adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras berkualitas tinggi anggota suku Fabaceae (Leguminosae). Karena kekerasannya, di wilayah Maluku, Maluku Utara  dan Papua barat  juga dinamai  kayu besi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerbitkan peraturan yang dikhawatirkan mengancam keanekaragaman hayati dan ekologi hutan. Melalui Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 106 tahun 2018 […]

expand_less