Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Perempuan Mapala Bicara Perubahan Iklim

Perempuan Mapala Bicara Perubahan Iklim

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
  • visibility 488

Soroti  Reklamasi hingga  Sampah Pembalut Wanita 

Perkumpukan Paka Tiva Maluku Utara,  sebuah lembaga non profit yang bekerja untuk pendampingan warga  dan concern  untuk isu literasi,  budaya dan ekologi,  menggelar Seri Diskusi Pencinta Alam Maluku Utara.  Diskusi Rabu (12/8) di jarod cafe BTN, adalah   kedua kalinya. Pesertanya  Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala)  dari berbagai perguruan tinggi di  daerah ini dengan  tema Perempuan dan Perubahan Iklim.

Pembicara diskusi yang diramu dalam  diskusi terpumpun itu adalah, Mirnawati  Abd Kadir SH  dari Dewan  Rimba Mapala Justitia Omnibus Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate. Mirnawati di hadapan   anggota Mapala perempuan itu memaparkan banyak hal,  kenapa anak Mapala terutama perempuan, juga harus diberi penguatan  dan pemahaman tentang  perubahan iklim. Menurutnya, perempuan menjadi korban   dan paling terdampak dari semua   perubahan iklim.   

“Kenapa perempuan berhubungan dengan perubahan iklim? Karena pihak yang paling banyak menerima dampaknya.  Karena itu tak salah perempuan juga harus paham dan punya kepedulian soal ini,”katanya memulai diskusi.

Dia memaparkan  banyak kasus yang terjadi  dengan lingkungan. Sebut saja deforestasi akibat penebangan hutan yang tidak terkendali, perkebunan raksasa seperti sawit, pembukaan lahan  massive akibar industry ekstraktif   serta banyak aktivitas yang memiliki dampak luar biasa bagi lingkungan. Pada akhirnya  ikut mengorbankan peran  dan tugas perempuan. Praktek perkebunan  sawit,  tambang dan HPH juga banyak menimbulkan persoalan.  Di  kampung – kampung  yang ada perkebunan sawit  banyak menimbulkan masalah. Dari perampasan lahan, kekurangan air, banjir hingga  persoalan hak asasi manusia. Tumbuhan sawit   juga  tanaman   boros air.  Dampaknya nanti warga akan kesulitan air. Satu hektar butuh air sekria 8 ribu liter per hari.  Jika demikian, datang musim kemarau dampknya pasti dirasakan warga terutama kaum perempuan. 

Dampak perubahan iklim juga  ikut meningkatkan  permukaan laut. Hal ini   menyebabkan  adanya  intrusi air laut di berbagai kawasan. Kasus Ake Gaale   di mana terjadi  intrusi air laut dan mencemari sumber air di  bagian Utara Kota Ternate,  adalah contoh konkrit   dampak  perubahan iklim.  Ini juga akibat aktivitas manusia  yang merusak daerah daerah  resapan air dan daerah ketinggian

Beberapa waktu belakangan ini,  di berbagai wilayah di Maluku Utara dilanda banjir. Dari Kepulauan Sula, Halmahera Tengah, Morotai hingga Gane Halmahera Selatan. Belum lagi  gelombang pasang dan berbagai dampak akibat perubahan iklim lainnya. 

Dari berbagai contoh itu maka   perempuan juga harus punya gerakan. “Mungkin kita bisa mengambil  hikmah dari  contoh   gerakan Chipko di India. Di mana perempuan memeluk pohon  untuk memberi perlindungan pada hutan mereka yang dieksploitasi oleh Negara dan industry.  Ini perlu juga didengungkan perempuan  di daerah ini yang dimulai dari  perempuan pencinta alam,” katanya.

Di Indonesia ada anak perempuan  bernama  Aeshninna Azzahra (12), siswa SMP Negeri 12 Gresik, menjadi pegiat lingkungan bertandang ke Jakarta   memberikan surat kepada Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Kanselir Jerman Angela Merkel melalui Kedutaan Besar masing-masing  agar menghentikan ekspor sampah plastik ke Indonesia.  Atau yang paling heboh Gretta Tunnberg yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25.  Ini adalah contoh contoh gerakan perempuan untuk lingkungan dan perubahan iklim  yang  mestinya juga dipikirkan  perempuan Maluku Utara. Kenapa demikian karena  ancaman perubahan iklim  ini bagi  perempaun  secara  ekonomi dan social cukup serius.   Perlu ada gerakan  yang dilakukan untuk ikut berjuang  menghadang dampak dari perubahan iklim. Contoh paling nyata  yang bisa dilakukan adalah  gerakan tanam mangrove, pembersihan pantai. bersihkan sampah  di pantai  dan gunung   atau memerangi praktek buang sampah sembarangan. Ini beberapa contoh yang bisa dilakukan  pencinta alam.  “Dulu hujan dan panas itu ada waktunya tetapi sekarang tidak ada lagi.  Semua kejadian ini karena banyak alam yang rusak,” kata Mirna. Mirna.

Soal  kekerasan  terhadap perempuan. Menurutnya di sini perempuan   juga harus bisa jaga diri, dengan bisa jaga diri maka bisa ikut  menjaga alam. Untuk Mapala  perlu menghilangkan  pandangan   bahwa Mapala tak sekadar camping tetapi juga ikut membangun kesadaran besar soal penyelamatan  lingkungan.

Usai pemaparan, peserta FGD diminta  menyampaikan masukan, ide, pendapat atau gagasa termasuk sharing pengalaman mereka. Terutama  yang telah dilakukan  dalam  mengatasi masalah perubahan iklim di Ternate. 

Siti Halima Mahasiswa Pencinta Alam STIKIP Ternate misalnya,  menyampaikan bahwa  Ternate memiliki segudang  masalah yang  berhubungan dengan lingkungan.  Terutama sampah dan reklamasi.  Di sini  perempuan pencinta alam harus punya andil.  Secara lokal Maluku Utara, persoalan  tambang  ikut mengancam pulau kecil. Banyak persoalan ini tetapi perempuan masih diam. Belum mengambil peran. Kebanyakan perempuan  punya potensi. Lembaga seperti Pakativa kata dia, bisa menjadi pendorong untuk gerakan ini bagi perempuan. Banyak dampak  langsung dirasakan  masyarakat,  karena itu butuh  wadah  menyatukan gerakan perempuan. 

“Persoalan paling serius kota ini adalah sampah. Perlu ada gerakan bersama memerangi sampah karena ini soal paling serius kota ini,” ujarnya. Kalau soal perempuan yang  tidak bisa diabaikan adalah  kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal ini    juga  harus didorong oleh Pakativa. Dalam beberapa tahun belakangan  ini,  belum  melihat peran perempuan  terhadap lingkungan. Padahal powernya sangat besar.  Soalnya  perempuan tidak mengerti kekuatannya.  “Peran perempuan terkait perempuan itu sendiri. Kekerasan yang terjadi kepada perempuan tetapi tidak terekspose.  Harus fokusnya kepada perempuna itu sendiri sebelum bicara soal penyelamatan alam,” imbuhnya.

Nurazizah Darwia  dari Arispala Uniersitas Khairun misalnya,  berbicara agak serius soal sampah dan perempuan. Gadis berjilbab ini  mengatakan,  bicara  peran perempuan dalam memerangi sampah  sangat relevan karena  perempuan juga menjadi penghasil sampah. “Kita bicara memerangi sampah. Ternyata  peran perempuan sangat sentral,” katanya. Misalnya mengelola sampah—pembalut  milik perempuan. Perlu mendorong penggunaan pembalut yang ramah lingkungan.  Tidak menjadi penambah sampah yang berbahaya bagi lingkungan.   Sebagai pencinta alam bisa safety sampah dari pembalut. Mirna  menanggapi  soal ini dengan mengatakan,  orang  tua  dulu tidak pernah pakai pembalut mereka menggunakan barang atau bahan  yang lebih alami. Ada juga yag membuat pembalut  dari kain. Sudah banyak aktivis lngkungan  menggunakan bahan silicon.   Pencinta alam harusnya menghindari  menjadi penghasil sampah.

Priscilia Malla dari Mapala Justitia Omnibus  bicara soal   dampak rekmalasi.   Apa dampaknya mengambil tanah di gunung  dan bukit dan menimbun  laut.  Padahal gunung,  bukit dan hutanya memiliki  fungsi masing-masing. Dampaknya  bagi warga dan kota ini secara keseluruhan. Tempat wisata di Maitara, misalnya  tanggul  di tepi pantai  jebol dihantam air laut. Jangan-jangan  ini juga akibat  dampak reklmasi yang dilakukan di Ternate.  Soal sampah misalnya,  Kawasan  belakang Bandara Baabullah Ternate tidak disediakan  tempat sampah. Terpaksa warga membuang  sampah  secara sembarangan. Soal soal ini  butuh   gerakan bersama  mendorong kesadaran warga dan pemerintah.

“Soal perubahan iklim  dan perempuan, hal yang sederhana di kampung – kampung tu, misalnya jika terjadi hujan terus menerus  dan tidak menentu, maka  ibu-ibu tidak bisa mengambil kayu bakar. Dampaknya  mereka tidak memasak.  Ini sebuah contoh kecil saja,” tutupnya. (*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Cara Bangun Kesadaran Isu Climate Change

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 461
    • 1Komentar

    Membangun kesadaran siswa soal isyu sampah plastik dan dampaknya bagi laut dan ancaman perubahan iklim, foto PakaTiva

  • KLHK dan Warga Tanam Mangrove di Desa Toseho Tidore Kepulauan

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 739
    • 2Komentar

    Penanaman pohon secara serentak seluruh Indonesia    dilakukan juga di Maluku Utara pada Rabu 7/2/2024). Kegiatan  Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu, dihadiri Staf Khusus Menteri LHK, Kelik Wirawan Wahyu Widodo mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya. Hadir juga  pejabat dan pegawai  instansi di bawah KLHK, Dinas Kehutanan provinsi polisi dan TNI serta beberapa instansi pemerintah […]

  • Pulau- pulau Kecil di Malut yang Butuh Perhatian ( Bagian 1)

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle
    • visibility 769
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai provinsi Kepulauan memiliki luas wilayah secara keseluruhan mencapai 145.801,1 kilometer meliputi daratan 45.069,66 Km2 (23,72 persen) dan wilayah perairan seluas 100.731,44 Km2 (76,28 persen). Maluku Utara juga memiliki  panjang garis pantai 3.104 Km. Data  hasil identfikasi jumlah pulau di Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, dengan jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89  atau 1.385 […]

  • Dodinga dan Cerita  Wallace untuk Kehati di Maluku Utara   

    • calendar_month Sen, 1 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 517
    • 7Komentar

    Warga Desa Dodinga Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara terlihat tumpah ruah ke jalan siang itu di awal Oktober lalu 2024 lalu. Mereka menyambut tamu penting yang akan meresmikan prasasti Alfred Russel Wallace. Kedatangan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey bersama William (Bill) Wallace cicit Alfred Russel Wallace   dan pemerintah provinsi dan kabupaten ke kampung itu, seperti memutar kembali memori […]

  • Pembangunan Ekonomi Belum Menghitung Kerusakan Lingkungan  

    • calendar_month Sen, 15 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 488
    • 1Komentar

    Implementasi “sustainability” dan mitigasi perubahan iklim bukan lagi pilihan tapi kewajiban. Itulah yang mendorong Indonesia ikut “Paris Agreement”, mencoba melakukan transisi energi menuju energi terbarukan, dan memiliki rencana “net zero emission” di 2060. Hanya saja untuk mencapai semua yang telah direncanakan sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Energi yang digunakan dalam pembangunan masih banyak menggunakan […]

  • Petani Dapat Penguatan Usaha Kelapa dan Hortikultura

    • calendar_month Jum, 18 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 563
    • 0Komentar

    Hasil Kolaborasi Pakativa – Disperindag dan Distan Provinsi Turunan hasil kelapa yang  mencapai 50 jenis produk hingga kini belum dimanfaatkan  oleh petani  di Maluku Utara.  Mereka hanya mengandalkan kopra sebagai sumber pendapatan utama. Karena itu ketika harga kopra anjlok petani menjadi  terpuruk. Sementara, hasil lain dari kelapa  seperti tempurung, air dan sabuk kelapa  hanya dibuang […]

expand_less