Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
  • visibility 668

Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti Maluku Utara. Dampak itu begitu nyata dirasakan. Hal ini kemudian mendorong Risal Assor  Ketua Kelompok Difabel Maku Gawene  Kota Ternate datang dalam kegiatan Indonesia Climate Justice Sumit   (ICJS) atau Forum Temu Rakyat yang berlangsung di Jakarta Selasa (26/8/2025)  hingga Kamis (29/8/2025) lalu.

Risal Assor (47 tahun)  memakai kursi roda akibat jatuh sejak usia  3 tahun. Saat ini dia adalah pemusik, yang sehari- hari  bekerja di Red Corner Restauran  sebuah restauran di Ternate sebagai pemain saxophone.

Risal sehari – hari di Ternate bersama istrinya Nurjannah yang juga seorang difabel membangun usaha kerajinan Eco Print. Yakni teknik mencetak pola pada kain dengan memanfaatkan pigmen alami dari bagian tumbuhan seperti daun, bunga, batang, serta ranting, yang kemudian diolah menjadi motif unik dan otentik melalui proses seperti pengukusan atau pemukulan. Meski dengan dibantu kursi roda otomat dia ikut hadir dalam forum ini sekaligus  menyampaikan aspirasinya dalam bentuk aksi ke kawasan Monas Jakarta.

Risal hadir di panggung utama gedung Seraba guna  Senayan Jakarta   bersama berbagai kelompok masyarakat yang menjadi korban   dampak iklim yang menghantam kehidupan umat manusia saat ini.  Kehadiran Risal membacakan sikap politik tidak hanya atas nama dirinya tetapi dari  kaum disabilitas di Indonesia dan dunia. Tak hanya mengikuti pertemuan yang dilaksanakan selama 6 hari yakni 23 hingga 29 Agustus yang diakhiri dengan aksi Justice Climate ke kawasan Monas Jakarta pada pada Kamis (29/8/2025). Bersama kelompok disabilitas dari seluruh Indonesia bergabung bersama kelompok masyarakat, petani, nelayan, masyarakat adat, kaum miskin kota dan   kelompok anak muda menyuarakan dampak perubahan iklim yang turut membuat orang seperti dirinya ikut terpapar.

Risal Assor (47 tahun)  saat membacakan sikap kaum disabilitas terkait iklim di gedung Serba Guna Senayan Jakarta, foto Ichi

Dalam aksi itu, Risal ikut serta membawa pamflet berisi  pesan pesan keadilan iklim yang diperjuangkan. Tidak itu saja melalui aksi ini mereka menyuarakan dan mendesak pemerintah agar mempercepat pengesahan Rancangan Undang-undang Perubahan Iklim yang saat ini telah masuk ke dalam Badan Legislasi DPR.

Kegiatan yang diinisiasi Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI)sejak 23 hingga 28 September lalu itu, menghadirkan berbagai kelompok masyarakat yang  kurang lebih 1500 orang. Mereka ini yang menerima dampak langsung dari  perubahan iklim karena adanya berbagai aktivitas industri  yang berlangsung di darat dan laut. Saat pembukaan acara Rizal  diutus  menyampaikan  pernyataan politik difabel. Dia merupakan perwakilan difabel  yang menyampaikan sikap terkait kondisi yang dialami akibat dampak perubahan iklim.

Berikut pernyataan politik disabilitas.  “Nama saya Rizal.  Saya penyandang disabilitas dari Ternate  Maluku Utara. Dulu saya masih bisa beraktivitas  dengan lebih mudah.  Lingkungan sekitar saya mendukung. Cuaca lebih bisa diprediksi. Saat menyeberang antarpulau  di sekitar tempat tinggal saya laut lebih tenang  angin tidak sekencang sekarang. Ombak masih bisa diprediksi.  Meski menghadap hambatan sebagai penyandang disabilitas,  saya bisa bepergian, bekerja  terlibat dalam kegiatan  masyarakat tanpa rasa takut tiba tiba terjebak badai  angin kencang  atau gelombang tinggi.

Saya merasakan sendiri  bagaimana krisis iklim  memperparah hambatan  yang  sudah ada. Tinggal di pesisir pulau pulau kecil  membuat saya harus menghadapi  hujan deras,  banjir rob,  ombak tinggi,  dan kekeringan panjang. Yang menyulitkan akses transportasi  air bersih  dan bahkan evakuasi. Semua ini membuat  saya cemas  lelah secara fisik maupun mental.  Hal ini menambah stigma diskriminasi  yang selama ini kami alami.  Padahal  kami penyandang disabilitas  sangat sedikit berkontibusi terhadap perubahan iklim, tetapi menanggung dampak lebih berat yakni kehilangan rumah, mata pencaharian  bahkan keselamatan jiwa.

Sementara perlindungan  yang ada seringkali  tidak berpihak pada kami. Bantuan pemerintah saat bencana  masih belum ramah disabilitas. Akses informasi terbatas,  tempat evakuasi tidak bisa dijangkau  dan bantuan pangan tidak sesuai kebutuhan. Padahal kami seharusnya  mendapat perlindungan sosial  yang memperhitungkan ekstra cost of disabilty  dan kerentanan yang lebih tinggi. Kesempatan kerja makin sedikit  sementara bagi kami sangat sulit mengganti pekerjaan  seperti orang tanpa disabilitas. Karena itu  jaminan  pekerjaan layak dan  perlindungan sosial  yang inklusif  harus menjadi prioritas  negara terutama  di tengah krisis iklim.

Kami penyandang disabilitas  bukan penyebab krisis iklim  tetapi justru menanggung dampak  paling berat.  Kami menghadapi  hambatan berlapis  akses terbatas  diskriminasi dan  kini ancaman iklim.  Meski begitu  kami tetap berkontribusi  menjaga keidupan dan komunitas. Kami menolak dipandang sebagai objek  belas kasihan. Kami adalah warga negara setara  dan bagian penting dari solusi. Mengabaikan kami berarti  mengabaikan keadilan. Kami menuntut  akses perlindungan sosial  yang adil dan inklusif  khususnya dalam situasi krisis iklim. Kami menuntut  layanan evakuasi,  bantuan pangan  dan fasilitas publik  yang aksesibel  bagi semua jenis disabilitas.

Kami menuntut dukungan nyata  dari negara  dalam menghadapi krisis air  kesehatan dan kehilangan  mata pencaharian akibat dari  cuaca ekstrem.  Kami mendesak agar penyandang disabilitas dilibatkan  secara langsung  dalam perumusan kebijakan iklim, bencana dan pembangunan. Kami menuntut keadilan iklim yang menghentikan ketidakadilan struktural dan memastikan  tidak ada kelompok rentan yang ditinggalkan. Tanpa Keadilan iklim,penyandang disabilitas  akan selalu terpinggirkan. Tanpa aksesibilitas  tidak ada keselamatan. Ini soal hidup dan mati kami. Kami tidak minta dikasihani. Kami menuntut pengakuan dan keadilan. Keadilan iklim adalah  untuk semua.Termasuk kami penyandang  disabilitas.

“Bersama Kita Lebih Kuat”        

  • Penulis:
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Serunya Kegiatan Halmahera Overland 4×4

    • calendar_month Sen, 18 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Para peserta Hakmahera Overland 4×4 mengangkat batang kayu untuk membangin jembatan daruta agar bisa dilewati mobil yng mrtrks tumpngi, foto Dewahyudi

  • Kebijakan Donald Trump Berdampak ke Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 7 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 503
    • 0Komentar

    Program USAID BerIKAN Terancam Ditutup Terpilihnya Presiden Amerika Serikat yang baru  Donald Trump  memberi dampak bagi  pemberian donor bagi sejumlah Negara di dunia termasuk Indonesia. Bahkan dampaknya sampai ke Maluku Utara.  Salah satu yang  ikut berdampak dari kebijakan Donald Trump itu adalah  closing program  Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau  yang dikenal dengan USAID.  Lembaga […]

  • Ini Kajian AEER Soal Rencana HPAL Obi dan Morowali

    • calendar_month Kam, 4 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 426
    • 0Komentar

    Suasana laut dan pantai desa Kawasi Obi Halmahera Selatan/foto Ata Fatah

  • Sekolah Penggerak PAUD Akegaale Lepas Siswa  

    • calendar_month Sel, 21 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 269
    • 1Komentar

    Pendidikan anak usia dini sangat menentukan nasib generasi di masa depan. Penanaman nilai Pancasila berbudaya, beriman dan berakhlak menjadi salah satu syarat penting diajarkan kepada anak anak. Syarat merdeka belajar ini juga   diterapkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ake Gaale Malaha di Kelurahan Sangaji Ternate Utara Kota Ternate yang Senin (20/6),  berhasil melepas 15 siswa […]

  • Keppres Moratorium Sawit Segera Terbit?

    • calendar_month Jum, 26 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Ini Poin- poinnya   Ini kabar baik bagi warga Maluku Utara yang saat ini sedang  berjuang membebaskan daerahnya dari  industry perkebunan sawit. Pasalnya, saat ini  sedang digodok inpres yang mengatur tentang  moratorium perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Seperti dilansir )Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/01/25/moratorium-sawit-segera-terbit-berikut-poin-poin-draf-inpresnya/) Setelah hampir dua tahun—sejak April 2016– rencana pemerintah keluarkan aturan tunda sementara (moratorium) izin […]

  • Pembangunan Ekonomi Belum Menghitung Kerusakan Lingkungan  

    • calendar_month Sen, 15 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 304
    • 1Komentar

    Implementasi “sustainability” dan mitigasi perubahan iklim bukan lagi pilihan tapi kewajiban. Itulah yang mendorong Indonesia ikut “Paris Agreement”, mencoba melakukan transisi energi menuju energi terbarukan, dan memiliki rencana “net zero emission” di 2060. Hanya saja untuk mencapai semua yang telah direncanakan sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Energi yang digunakan dalam pembangunan masih banyak menggunakan […]

expand_less