Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

  • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
  • calendar_month Rab, 17 Des 2025
  • visibility 799

Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan 

Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali.

Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini adalah cikal bakal warga kampong Tomadou. Mereka turun ke bawah kurang lebih 5 kilometer dan membuat kampong Tomadou sekarang.

Perkampungan Buku Mira memang kini tinggal kenangan.  Sudah hamper 80 tahun ditinggalkan dan telah kembali menjadi hutan berupa area perkebunan  masyarakat setempat. Meski telah ditinggalkan turun temurun, tetapi tetap dijaga sebagai kawasan penyangga sumber air bagi kehidupan mereka.

Kampung tua dan sumber air  Ake Sali berada di kawasan pegunungan dengan jarak sekitar lima kilometer dari  permukiman warga.  Mata air ini tetap dirawat dan dijaga.  Dari sumber mata air  ini warga membuat pipanisasi air yang menyusuri   medan berat. Melewati tebing dan lereng curam, perbukitan, hutan rimba, hingga kebun pala dan cengkeh milik warga.

Ternyata nilai dan warisan airnya hidup dan tetap dijaga.  Model menjaganya  tercermin dari  kegiatan gotong royong lintas generasi keturunan Buku Mira   merawat  jalur pipa air dari mata air Ake Sali menuju Kampung Tomadou Kelurahan Tosa,Tidore Timur.
Kegiatan gotong royong ini dilakukan secara rutin sebulan sekali atas inisiatif bersama warga keturunan  Buku Mira.  Tujuannya memastikan pipa air tidak tersumbat oleh material dari alam serta menjaga aliran air pegunungan tetap lancar.

Air dari Ake Sali tidak hanya dimanfaatkan warga Kampung Tomadou, tetapi juga  digunakan  oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir.

Tetua masyarakat Buku Mira Jojo Biji, menuturkan  kurang lebih  80 tahun lalu, saat Buku Mira masih dihuni, Ake Sali merupakan sumber utama kehidupan warga. Pada masa itu, air dialirkan menggunakan belahan bambu yang disambung-sambung sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer.

“Dari dulu kami hidup dari Ake Sali. Air dialirkan dengan belahan bambu, sederhana tapi penuh makna. Itu sumber kehidupan kami,” cerita Jojo Biji.

Seiring perpindahan permukiman ke Kampung Tomadou dan perkembangan zaman, saluran bambu  diganti  pipa paralon. Pergantian tersebut dilakukan agar warisan leluhur tidak hilang dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Soal  kegiatan gotong royong  menurut  Dahlan Mahmud, salah satu keturunan  Kampung Buku Mira  bahwa yang dilakukan ini adalah simbol keterhubungan lintas generasi antara sejarah, pengabdian, dan tanggung jawab sosial.

“Setiap warisan itu bermakna. Dia adalah sejarah dan seni yang tak terlupakan. Indahnya warisan kita adalah ketika orang lain bahagia menikmati setiap tetesan air yang kita usahakan bersama,” tutur Dahlan Mahmud.

Keberadaan air ini sebenarnya sangat bermakna bagi warga di perkampungan di daerah puncak Tidore. “Kalau nanti kamu minum air Ake Sali, ingatlah saya, kakek  Ba Himen,” celoteh  Ba Himen salah satu tetua kampong saat kegiatan gotong royong pembersihan sumber air ini.

Bagi warga kampong setempat  dalam konservasi dan sosial budaya, kegiatan ini menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Gotong royong menarik pipa untuk air bisa mengalir sampai ke kampung,foto Jamal

Bekas perkampungan Buku Mira kini menjadi hutan rimba yang tidak dieksploitasi. Wilayah perkampungan ini tetap dirawat sebagai sumber kehidupan bersama. Gotong royong lintas generasi ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat  dari wilayah yang kerap dianggap terpencil mampu memberi kontribusi nyata bagi banyak orang.

Dari hutan bekas kampung Buku Mira, Ake Sali terus mengalirkan air, sejarah, dan nilai kebersamaan yang menghidupi desa hari ini dan masa depan.(*)

 

  • Penulis: Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
  • Editor: Mahmud Ici

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 860
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

    • calendar_month Sab, 15 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 605
    • 1Komentar

    Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun […]

  • Warga Protes Pembangunan Jetty di Lalubi Gane

    • calendar_month Sab, 4 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 621
    • 1Komentar

    Jetty atau dermaga yang dibangun perusahaan jasa konstruksi di kawasan pantai Gorua Lalubi Gane Timur foto Asrul Lamunu

  • Perempuan Tobaru Kembangkan Pangan Lokal

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 564
    • 1Komentar

    Dorci Polu (56) dan suaminya Herman Ime (60) Jumat siang di pertengahan Februari lalu itu duduk di depan rumah. Hari itu mereka  belum ke kebun  yang  berjarak sekira 3 kilometer dari Desa Togoreba Tua Kecamatan Tabaru Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara. Herman Ime duduk di  kursi sambil menatap ke arah jalan raya. Sementara Dorci langsung […]

  • KPK Ingatkan Kepala Daerah di Malut Tak Korupsi

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 453
    • 1Komentar

    Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata mengingatkan  seluruh kepala daerah Gubernur dan Bupati serta Wali Kota di Maluku Utara (Malut) untuk  memelihara integritas dan nama baik selama maupun setelah menjabat. Menurut Alex, nama baik dan kebanggaan dalam memelihara integritas akan abadi lintas generasi. Demikian disampaikan Alex dalam Rapat Pemberantasan Korupsi Terintegrasi di Provinsi […]

  • Anak Muda Bicara Problem Pembangunan Halmahera Selatan

    • calendar_month Ming, 5 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 568
    • 0Komentar

    Warga di Gane hanya bisa memanfaatkan jalan perusahaan sawit untuk akses mereka. Hingga kini jalan belum dibangun pemerintah di ujung selatan Halmahera tersebut, foto M Ichi

expand_less