Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Orang  Sawai Dalam, Penjaga  Bentang Halmahera yang Terusik Tambang

Orang  Sawai Dalam, Penjaga  Bentang Halmahera yang Terusik Tambang

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • visibility 77

Penulis: Djul Fikram Isra Malayu & Mahmud Ici  

Suasana mendung pagi hingga siang. Memasuki pukul 14.13 WIT matahari mulai menampakkan cahaya. Sinarnya  terasa agak terik.  Di akhir  bulan, tepatnya  Senin 29 Oktober 2025, di  Halmahera Tengah  dan sekitarnya sedang musim  hujan. Meski begitu, kadang ada sela cerah  dengan cahaya terik.

Hari itu ketika cuaca agak cerah, berangkat ke Dusun Kulo Dalam/pedalaman sebuah pedusunan di pedalaman Halmahera Tengah. Dusun ini  berbatasan  langsung dengan hutan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata di Kota Tidore  Kepulauan. Jarak  ke Kulo Dalam  kurang lebih  30 kilometer.  Kulo Dalam adalah  dusun yang berada  di tengah pulau  Halmahera.  Selain warga Kulo,  ada juga suku Tobelo Dalam atau Ohongana Manyawa. Mereka  tersebar di kawasan hutan ini, meski  tidak  membuat perkampungan layaknya  warga Kulo.

Mereka sering dikaitkan dengan  suku Sawai yang   hidup pedalaman, meskipun sebenarnya ada beberapa etnis hidup bersama di dusun ini. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena mereka sudah kawin-mawin. Sementara sehari-harinya menggunakan bahasa Sawai yang mayoritas  hidup di daerah pesisir.

Perjalanan dari Weda menuju Kulo Dalam tidaklah mudah. Dimulai dari Weda ke desa Kulo Jaya (luar,red) desa induk Kulo Dalam. Desa ini masuk wilayah transmigrasi, tepatnya di Satuan Pemukiman (SP) III.  Waktu tempuh dari Weda ke Kulo Jaya (luar,red) kurang lebih 2 jam  menggunakan  kendaraan roda dua. Tiba di Kulo Jaya Luar,  lanjut lagi  jalan kaki kurang lebih 20 menit menuju titik  perahu bermesin  40 PK yang  sehari- hari ditumpangi warga ke Kulo Dalam.

Sungai  Ake Jira  menjadi  jalur transportasi  warga   untuk mengakses  Kulo Jaya hingga ke Weda begitu juga sebaliknya.  Alat transportasi  warga  diparkir di salah satu titik sungai  Ake Jira seperti pelabuhan umumnya. Dari titik ini perjalanan melewati derasnya air sungai ke kampung Kulo Dalam. Perahu yang digunakan kadang mengangkut 7 hingga  9  orang termasuk  juru mudi motor.

Hari itu perahu yang saya tumpangi mengangkut 7 penumpang  termasuk sang  juru mudi. Perjalanan  hari itu cukup menantang  melawan derasnya banjir setelah  hujan di daerah hulu. Sepanjang perjalanan  juru mudi kadang mematikan mesin  menunggu warga membersihkan jalur dari batang kayu dan sampah  yang berserakan di atas air sungai.

“Perjalanan seperti ini penuh perjuangan kalau hujan dan ada banjir. Jika  normal bisa menghabiskan waktu 4  jam sudah bisa sampai  Kulo Dalam.  Tapi jika banjir dan berlumpur serta banyak batang kayu   menutupi akses perahu   waktu  tempuh  akan lebih lama. Kadang 6 hingga 7 jam. Bahkan kadang tidak bisa tembus,” kata Yamris Koke  juru mudi perahu berbahan viber yang saya tumpangi hari itu.

Dia bilang, lancarnya  perjalanan tergantung kondisi medan. Kala banjir,  dan banyak batang  mengadang  terpaksa perahu berhenti  dan dilakukan pembersihan.   Benar saja  perjalanan berjam-jam hari itu tak mulus . Jalur sungai  dipenuhi  material berupa batang kayu  juga lumpur yang menutupi jalur yang biasa dilewati perahu. Mesin dimatikan lalu membantu warga membersihkan penghalang yang ada.

“Ini keseharian hidup warga di sini. Kita temui warga dihadapkan berbagai macam tantangan seperti  tak ada jalan, rakit dan perahu yang terhambat  banjir dan lumpur. Hal ini  kadang sangat menyusahkan warga,” kata Yohanis Koke    kakak   Yembris Koke    dalam perjalanan  menuju  Kulo Dalam  hari itu.

Di sepanjang sungai itu juga disaksikan rimbunnya hutan Halmahera dihiasi pepohonan hutan rimba dengan ukuran besar berdiri  kokoh. Sesekali  terdenagr kicauan burung  di sepanjang perjalanan. Dari pucuk- pucuk pohon yang menjulang ada suara   gagak, kakatua putih,  nuri bayan, hingga rangkong. Suara ini   jadi  hiburan. Cukup melelahkan memang perjalanan hari itu. Duduk di atas perahu viber bermesin tempel  4 jam lebih akhirnya bisa sampai ke desa Kulo Dalam.

Ada  hal yang  menyenangkan di sepanjang perjalanan. Yakni bisa membelah  belantara Halmahera  lewat sungai dan melihat keaslian  hidup  warga setempat  dengan harmony serta keramahan ketika memasuki  kampung mereka.   

Asal Mula Kampung Kulo

Kampung Kulo secara administrasi masuk wilayah Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Nama dusun Kulo menurut penuturan beberapa tetua kampung  adalah Kulo Kulaga Mandala Siaga. Dulu mereka menyebutnya begitu. Meski demikian nama ini kurang populer. Mereka juga mengaku tidak tahu siapa yang pertama kali memberi nama ini.  Kini  orang-orang lebih banyak menyebutnya  Kulo Dalam.

Awal pembentukan kampung menurut cerita beberapa tetua kampung,  terjadi sekira 1909 saat ada kelompok warga dari pesisir   mencari damar dan gaharu ke kawasan tengah hutan Halmahera menyusuri sungai Ake Jira. Dari situ kemudian mereka menetap dan menjadikan kawasan hutan di Ake Jira  sebagai kampung/dusun hingga kini.

Sejarah dan waktu pembentukan kampung ini memang banyak versi. Ada juga yang menyebutnya  dusun ini berdiri  1911. Tokoh adat  Kulo Yohanis Koke menyebutkan awal pembentukan kampong ini dibangun  sekelompok  masyarakat  Sawai yang datang dari pesisir. Mereka  mendirikan perkampungan di tepian Sungai Akejira ini dan menamainya “Kulo” yang dalam bahasa Sawai  berarti  tempat yang dijaga.

Tempat yang dijaga itu, berkaitan dengan jere atau makam keramat yang diyakini sebagai nenek moyang orang Sawai  bernama Cekel  yang perlu dijaga. Artinya sudah hamper 110 tahun dusun ini  berdiri  tetap dihuni dan dijaga hingga kini.

Soal   etnis  di kampung ini,  mayoritas   dari suku Sawai  tetapi  juga ada dari Tobelo dan Galela, dua etnis  dari Utara Halmahera.   Bahasa mayoritas yang mereka  gunakan  adalah Sawaimeski begitu merekajuga paham bahasa Tobelo dan Galela.  Mereka tetap menuturkan beberapa bahasa itu sebagai  alat komunikasi keseharian.

Sekdes Desa Kulo Jaya Abner Dowongi  menjelaskan, di Kulo Jaya total penduduknya mencapai 503 jiwa. Sementara di dusun Kulo Dalam   ada 32 jiwa atau 11 kepala keluarga (KK) dengan 7 rumah.  Berstatus dusun  secara administrasi tidak terdaftar sebagai desa definitive tetapi tergabung ke desa Kulo Jaya Weda Tengah.  “Dia tergabung dalam desa Kulo Jaya,” ujar Abner.

Warga Sawai Dalam membangun rumah di tepi sungai Ake Jira, mereka juga membuat tangga di dinding sungai untuk memudahkan mereka mengakses sungai baik untuk makan minum hingga untuk transportasi,foto Vicky

Hidup dari  Memanfaatkan Hasil Hutan dan Bertani

Warga Kulo menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Mereka menanam tanaman tahunan seperti kelapa, pala dan cengkih Sementara tanaman bulanan sebagai pangan utama mereka adalah pisang, ubi, sayuran, dan tanaman lokal lainnya.

Untuk  kebutuhan protein warga, memanfaatkan Sungai Ake Jira untuk mencari  ikan, kerang udang dan lain-lain. Sementara kawasan hutannya ada sagu yang dijadikan sebagai bahan makanan pokok.  Sebagian warga juga masih berburu rusa, babi atau hewan liar lainnya dengan cara ditombak, atau dipanah serta dijerat.

“Praktik-praktik ini sebenarnya dijalankan  leluhur  dan sampai saat ini kami masih jalankan. Ada perangkap tradisional yang namanya dodeso atau jerat untuk hewan seperti babi dan rusa,” cerita  Yohanes Koke.

Hubungan kekerabatan   dan kehidupan sosial di kampung ini masih sangat erat. Kegiatan gotong royong juga masih tetap hidup karena tetap dijaga warganya. Mereka masih saling membantu.  Dalam membangun rumah baru atau memperbaiki atap  rumah yang bocor maupun panen hasil kebun dilakukan bersama dengan tetangga.

“Musyawarah untuk mufakat menjadi landasan pengambilan keputusan, sehingga ikatan kekeluargaan  kuat dan perselisihan jarang terjadi,” ujar Yohanes.

Dalam upacara adat suba jo baik dalam pernikahan  perayaan natal penutupan tahun baru,  penjemputan  kunjungan  selalu diiringi alunan musik dan tarian tradisional Yangere yang diwariskan  turun temurun.  Tarian ini  diiringi musik  dari  alat tradisonal khas Tobelo seperti gitar hasil buatan sendiri dari kayu (kaste) menggunakan 2 senar  maupun alat musik bambu yang dikenal dengan bambu tada. Alat musick ini  dibuat dari potongan bambu yang dibenturkan ke tanah dan mengeluarkan bunyi atau nada.

Mama Aleksandrina (45 tahun) misalnya bercerita bahwa mereka juga masih menjaga pengetahuan lokal   tentang menjaga hutan karena dari sana lelaki atau suami mereka bisa berburu  mendapatkan tanaman, obat-obatan, hingga memanfaatkan untuk berbagai keperluan.

“Bikin saloy ( keranjang pengangkut hasil pertanian orang Halmahera,red) harus diambil di hutan. Sementara hutan  harus dijaga dan dihargai tinggi,” katanya.

Hal ini mereka sadari karena dari hutanlah  bisa hidup. Mereka  juga masih mengajarkan kepada anak  cucu  sejak kecil, tentang pentingnya menjaga dan melindungi hutan.  Kampung Kulo terasa nyaman. Tidak terdengar bising bunyi mesin, apalagi  polusi  asap kendaraan.   Sungai, hutan, dan ladang bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga rumah dan ruang spiritual.  Warganya turut menjaga keseimbangan ekologi sekaligus melestarikan warisan budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

“Kalau hutan hilang, kami kehilangan hidup. Kami tidak bisa pisah dari alam, karena di sanalah leluhur kami tinggal,” ujar Yohanis Koke, Kepala Suku sekaligus juru kunci  makam Cekel.

Salah satu warga Sawai Dalam yang hendak menuju hutan untuk berburu,foto Vicky

Tentang  Alam  yang Dijaga Warga  Kulo

Sejak berdiri seabad lalu. Kampong di tepian Sungai Akejira dinamai  Kulo   yang memiliki makna mendalam. Nama itu tak sekadar penanda geografis. Itu juga adalah penghormatan kepada Lagae Cekel   simbol identitas budaya dan spiritual orang Sawai.

Cerita turun- temurun yang  dikisahkan warga, bahwa Lagae Cekel dikenal sebagai orang sakti, bijak, dan menguasai  dua belas bahasa daerah di Maluku, dari Tobelo, Galela, hingga Sawai. Kisah  Cekel bagi orang Sawai sangat heroik. Dia dikisahkan  sebagai utusan kesultanan Tidore yang menyeberangi laut menuju Tidore hanya dengan sebatang galah. Ini menandai kesetiaannya pada Kesultanan dan kemampuannya mengatasi rintangan alam. Ia wafat di tengah hutan Halmahera, dan makamnya kini diyakini berada  tiga kilometer dari kawasan Transmigrasi Kobe Kulo, yang dikenal  dengan sebutan Jere Lagae Cekel.

“Jere itu tempat suci. Kami tidak boleh merusak hutan di sekitarnya, karena di sanalah leluhur kami bersemayam,”tutur Yohanis Koke.

Setiap pohon, setiap aliran sungai, dan setiap batu di sekitar Jere dianggap bagian dari warisan hidup yang dilindungi dan harus dilestarikan. Bagi masyarakat Kulo, menjaga hutan bukan sekadar menjaga tanah, melainkan menjaga identitas, sejarah, dan keberlangsungan hidup.

“Ini bukan cuma tanah, tapi kehidupan kami. Kalau hutan hilang, sejarah dan roh leluhur pun ikut hilang,” kata Yohanis.

Hutan di sekitar Kulo juga berperan sebagai pengetahuan masyarakat Sawai. Di hutan itu mereka belajar tentang musim, tumbuhan obat, lokasi berburu, dan pola tanam yang sudah diwariskan turun-temurun. Setiap ritual adat, dari panen hingga upacara spiritual, selalu terkait dengan hutan dan sungai yang menyejahterakan masyarakat sekaligus menegaskan hubungan mereka dengan leluhur.

“Kampung Kulo ini cermin harmoni manusia dan alam, sejarah, spiritualitas, dan ekologi saling terkait. Kehilangan hutan bukan hanya menghapus flora dan fauna, tapi juga memutus hubungan masyarakat dengan leluhur dan meminggirkan nilai-nilai budaya yang telah bertahan lebih dari seratus tahun,” tutup Yohanis

Alfonsius Gabariel Budiman, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora-Universitas Halmahera (Uniera) dalam riset tentang orang Sawai, menjelaskan, Cekel disebut cikal bakal keturunan Sawai yang mendiami pesisir Weda bagian Timur yakni Desa Kobe Gunung, Kobe Peplis, Lelilef Wo’e Bulan, Lelilef Sawai, Gemaf, Sagea, Yeke, Sepo, Wale, Mesa dan Dote.

Orang Sawai percaya  Cekel, selalu melindungi mereka ketika berada dalam ancaman bencana alam, manusia yang ingin membunuh atau juga ketika sakit. Mereka yakin ketika ada orang masuk hutan Sawai tanpa izin dari masyarakat setempat akan mendapat malapetaka.

Karena itu, kalau ada perusahaan masuk wilayah ini harus minta izin melalui tua–tua adat Sawai dengan membuat upacara khusus meminta izin pada roh nenek moyang  Cekel agar selamat dari bahaya.

“Dari pandangan mereka lebih tinggi itu disebut Jou (Tuhan). Ada juga yang melihat bahwa Jou itu sebutan Kepada Sultan,”tulis Alfonsius dalam risetnya.

Sawai, katanya, memiliki makna air yang terpancar. Masyarakat Sawai hingga kini masih punya kepercayaan  pada pohon, batu, dan goa–goa yang dianggap keramat. Bagi mereka ada kekuatan khusus. Selain itu, satu kepercayaan lagi adalah kepercayaan terhadap Legae Peay, setelah moyang Suku Sawai Cekel, meninggal dimakamkan di satu tempat yang diberi nama Lagae Lo’y (orang/paitua besar). Tempat ini selalu dipakai sebagai berziarah bagi orang Sawai. Kini, warga Suku Sawai penduduk memeluk Islam dan Kristen Protestan.

Selain masyarakat  adat Sawai, juga ada Tobelo Dalam. Mereka hidup di pedalaman hutan Halmahera Tengah. Mereka diperkirakan datang dari Boenge Tobelo, satu kawasan di Halmahera Utara. Sebagian  dari mereka ini masih  nomaden di tengah hutan Halmahera. Sering juga  Orang Tobelo Dalam turun ke pantai.

 

Kenyamanan dan ketenangan warga sawai dalam memanfaatkan hutan dan sungai kini mulai terancam oleh tambang, foto Vicky

Ketenangan yang  Kini Terusik Tambang 

Cerita kehidupan  warga Kulo  Dalam yang tenang, dan damai dengan semua kebutuhan hidup  yang berada di kebun dan hutan  kini terusik. Sejak  2020, ketika  tambang masuk Halmahera Tengah  masyarakat Kulo mulai merasakan ada perubahan.Aktivitas tambang menggerus ruang hidup mereka. Air sungai  keruh, tanah  yang mongering dan udara  berdebu mulai terasa. Sungai Akejira, yang hamper ratusan tahun  menjadi nadi kehidupan, kini berubah warna.

“Dulu sungai itu tempat kami mandi, minum, dan mencuci,sekarang airnya keruh dan berbau logam. Kami takut anak-anak sakit kulit.” ,” tutur Yohanis Koke.

PT WBN  bersama Tsingshan Holding Group, menguasai ribuan hektare hutan di Halmahera Tengah. Ekspansi industri ini menimbulkan ancaman ekologis serius bagi Weda Tengah. Dari sungai yang keruh, hutan yang dibabat,  hingga  lahan pertanian yang kini sebagian telah masuk konsesi tambang. Aktivitas ini menimbulkan dampak langsung ke warga termasuk yang ada di desa Kulo Dalam.

“Pada Mei-Juni 2025, banjir besar melanda Kulo. Air setinggi satu meter menenggelamkan rumah dan kebun, meninggalkan lumpur merah pekat  di jalan kampung.   Air datang cepat sekali, tidak ada hujan sebelumnya.  Kami tahu ini  bukan banjir biasa. Itu lumpur  dari  tambang ,”kenang Yamris Koke, warga Kulo

Lima bulan berselang, Oktober 2025, banjir kembali terjadi. Meski  hujan tak turun di kampong dan kebun, banjir tiba tiba datang. Ada hujan di hulu, banjir pun datang  membawa material lumpur.  Dugaan warga,  sedimentasi material tambang di hulu telah mengubah aliran sungai.

“Kalau dulu sungai tenang dan jernih, sekarang cokelat seperti kopi saat banjir ,”kata Yamris.

Setiap kali banjir kebun  warga tertimbun lumpur dan ikan- ikan mati. Dusun Kulo Dalam  yang masuk desa Induk Kulo Jaya  adalah  1 dari 13 desa di Weda Tengah yang wilayahnya kini berdampingan langsung dengan perusahaan tambang maupun  kawasan industry nikel PT IWIP.

Data BPS Maluku Utara (2022) mencatat, dari  jumlah desa  itu total warga berjumlah 12.986 jiwa. Wilayah ini dulunya hutan primer dan menjadi  hutan Suku Sawai. Di sini mereka menggantungkan hidup. Sebut saja hasil hutan non-kayu  seperti rotan, damar, dan sagu.

Ekspansi tambang  kini mengubah wajah hutan Halmahera Tengah terutama  di Weda Tengah. Data  Forest Watch Indonesia (2024), Malut  kehilangan lebih dari 11 ribu hektare tutupan hutan dalam lima tahun terakhir. Dari jumlah itu sebagian besar ada di sekitar kawasan WBN dan IWIP.  Dari data itu juga menunjukan  deforestasi di Weda Tengah mencapai 2.300 hektare per tahun akibat pembukaan jalan tambang dan area penimbunan ore.

“Yang kaya mereka yang punya tambang. Kami hanya dapat lumpur dan sakit. Air yang dulu sumber kehidupan, sekarang membawa racun,”kataYamris lirih.

Kehidupan warga Sawai Dalam yang biasa berkumpul dan bergotong royong dalam melakukan berbagai pekerjaan, foto Vicky

Kini  meski tekanan industri makin kuat, masyarakat Kulo menolak pergi. Tetap menjaga Jere Lagae Cekel, situs sakral tempat leluhur bersemayam. Setiap bulan, ritual adat mereka gelar untuk memohon  keseimbangan alam.

“Selama hutan masih berdiri, leluhur masih bersama kami.  Kalau hutan rusak, bukan cuma air yang hilang, tapi juga jiwa kami,”katanya.

Kini, di tengah deru mesin tambang dan kicau burung yang semakin jarang terdengar, Kampung Kulo menjadi simbol perlawanan sunyi masyarakat adat Sawai, berdiri di batas terakhir hutan Halmahera, melawan dengan cara mereka: menanam, menjaga, dan berdoa. Di Jere Lagae Cekel, setiap upacara dimulai dengan kalimat sederhana namun sarat makna: “Torang jaga hutan, karena hutan juga jaga torang.”

 Disclimer:Tulisan ini juga sudah terbit di Mongabay.co.id

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Kasubibi Kembangkan Padi Ladang

    • calendar_month Ming, 18 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 257
    • 2Komentar

    Program TEKAD Dampingi dan Buat Sekolah Lapang Program pemerintah bernama Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) menunjukan hasil menggembirakan.  Program yang didanai APBN dan International Fund for Agriculture Development (IFAD)  ini,  di Maluku Utara  difokuskan di Kabupaten Halmahera Selatan, Halmahera  Barat  dan Halmahera Tengah di  4 kecamatan dan 20 desa.   Salah satu daerah dampingan TEKAD […]

  • Atasi Sampah, Malut Butuh PLTSa?

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 661
    • 1Komentar

    Sampah menjadi masalah paling serius. Tidak hanya di kota tetapi juga di  desa- desa di seluruh Indonesia. Dia menjadi masalah dan  sangat mengancam lingkungan dan manusia  terutama sampah plastic. Sampah  jenis ini   sulit terurai  sehingga dilakukan berbagai riset  untuk mengatasi  makin banyaknya sebaran di lingkungan darat maupun laut.   Ada sejumlah cara  mengatasi sampah ini […]

  • JETP Tak Boleh Abaikan Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

    • calendar_month Rab, 16 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Rabu (16/8/2023) pemerintah mengumumkan rencana investasi transisi energi yang dibiayai oleh skema Just Energy Transition Partnership (JETP). Skema ini adalah bentuk Kemitraan Transisi Energi Indonesia yang Adil  melalui kesepakatan senilai 20 miliar dolar untuk mendekarbonisasi ekonomi bertenaga batu bara Indonesia, yang diluncurkan 15 November 2022 di KTT G20.  Seperti diketahui bersama, Indonesia menerima komitmen pendanaan […]

  • KKP Janji 20 M ke 10 Kampung di Tiga WPP

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Foto Pengukuran ikan tuna dalam program fair trade foto MDPI

  • Ini Potret Desa Sumber Pangan di Pulau Morotai

    • calendar_month Rab, 28 Feb 2018
    • account_circle
    • visibility 307
    • 0Komentar

    Gugusan pulau-pulau kecil di bawah langit terlihat biru kala mendekati Kepulauan Morotai, Maluku Utara, menumpangi kapal ferry, pada awal 2018. Ada  Pulau Dodola, Zum-zum, dan Pulau Kolorai, tempat produksi rumput laut. Pulau-pulau kecil pun menyimpan sejarah panjang Perang Dunia ke II. Pulau Zum-zum, merupakan saksi bisu pertempuran Jepang dan sekutu Tentara Amerika yang dipimpin Jenderal […]

  • Survei Kecil Kondisi Listrik Pulau-pulau di Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 558
    • 0Komentar

    Kondisi Listrik Yang Miris,  hingga  Interkoneksi Kabel Bawah Laut Maluku Utara termasuk salah satu provinsi kepulauan dan kelautan di Indonesia. Provinsi ini, berdasarkan data Badan Pusat  Statistik  (BPS) 75 persen wilayahnya adalah  laut dengan dihiasi ribuan pulau. Data terbaru Dinas Kelautan dan Perikanan,  Provinsi Maluku Utara memiliki 875  pulau baik yang sudah memiliki nama maupun […]

expand_less