Orang Sawai Dalam, Penjaga Bentang Halmahera yang Terusik Tambang
- account_circle Redaksi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 77

Salah satu warga Sawai Dalam yang hendak menuju hutan untuk berburu,foto Vicky
Penulis: Djul Fikram Isra Malayu & Mahmud Ici
Suasana mendung pagi hingga siang. Memasuki pukul 14.13 WIT matahari mulai menampakkan cahaya. Sinarnya terasa agak terik. Di akhir bulan, tepatnya Senin 29 Oktober 2025, di Halmahera Tengah dan sekitarnya sedang musim hujan. Meski begitu, kadang ada sela cerah dengan cahaya terik.
Hari itu ketika cuaca agak cerah, berangkat ke Dusun Kulo Dalam/pedalaman sebuah pedusunan di pedalaman Halmahera Tengah. Dusun ini berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata di Kota Tidore Kepulauan. Jarak ke Kulo Dalam kurang lebih 30 kilometer. Kulo Dalam adalah dusun yang berada di tengah pulau Halmahera. Selain warga Kulo, ada juga suku Tobelo Dalam atau Ohongana Manyawa. Mereka tersebar di kawasan hutan ini, meski tidak membuat perkampungan layaknya warga Kulo.
Mereka sering dikaitkan dengan suku Sawai yang hidup pedalaman, meskipun sebenarnya ada beberapa etnis hidup bersama di dusun ini. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena mereka sudah kawin-mawin. Sementara sehari-harinya menggunakan bahasa Sawai yang mayoritas hidup di daerah pesisir.
Perjalanan dari Weda menuju Kulo Dalam tidaklah mudah. Dimulai dari Weda ke desa Kulo Jaya (luar,red) desa induk Kulo Dalam. Desa ini masuk wilayah transmigrasi, tepatnya di Satuan Pemukiman (SP) III. Waktu tempuh dari Weda ke Kulo Jaya (luar,red) kurang lebih 2 jam menggunakan kendaraan roda dua. Tiba di Kulo Jaya Luar, lanjut lagi jalan kaki kurang lebih 20 menit menuju titik perahu bermesin 40 PK yang sehari- hari ditumpangi warga ke Kulo Dalam.
Sungai Ake Jira menjadi jalur transportasi warga untuk mengakses Kulo Jaya hingga ke Weda begitu juga sebaliknya. Alat transportasi warga diparkir di salah satu titik sungai Ake Jira seperti pelabuhan umumnya. Dari titik ini perjalanan melewati derasnya air sungai ke kampung Kulo Dalam. Perahu yang digunakan kadang mengangkut 7 hingga 9 orang termasuk juru mudi motor.
Hari itu perahu yang saya tumpangi mengangkut 7 penumpang termasuk sang juru mudi. Perjalanan hari itu cukup menantang melawan derasnya banjir setelah hujan di daerah hulu. Sepanjang perjalanan juru mudi kadang mematikan mesin menunggu warga membersihkan jalur dari batang kayu dan sampah yang berserakan di atas air sungai.
“Perjalanan seperti ini penuh perjuangan kalau hujan dan ada banjir. Jika normal bisa menghabiskan waktu 4 jam sudah bisa sampai Kulo Dalam. Tapi jika banjir dan berlumpur serta banyak batang kayu menutupi akses perahu waktu tempuh akan lebih lama. Kadang 6 hingga 7 jam. Bahkan kadang tidak bisa tembus,” kata Yamris Koke juru mudi perahu berbahan viber yang saya tumpangi hari itu.

Dia bilang, lancarnya perjalanan tergantung kondisi medan. Kala banjir, dan banyak batang mengadang terpaksa perahu berhenti dan dilakukan pembersihan. Benar saja perjalanan berjam-jam hari itu tak mulus . Jalur sungai dipenuhi material berupa batang kayu juga lumpur yang menutupi jalur yang biasa dilewati perahu. Mesin dimatikan lalu membantu warga membersihkan penghalang yang ada.
“Ini keseharian hidup warga di sini. Kita temui warga dihadapkan berbagai macam tantangan seperti tak ada jalan, rakit dan perahu yang terhambat banjir dan lumpur. Hal ini kadang sangat menyusahkan warga,” kata Yohanis Koke kakak Yembris Koke dalam perjalanan menuju Kulo Dalam hari itu.
Di sepanjang sungai itu juga disaksikan rimbunnya hutan Halmahera dihiasi pepohonan hutan rimba dengan ukuran besar berdiri kokoh. Sesekali terdenagr kicauan burung di sepanjang perjalanan. Dari pucuk- pucuk pohon yang menjulang ada suara gagak, kakatua putih, nuri bayan, hingga rangkong. Suara ini jadi hiburan. Cukup melelahkan memang perjalanan hari itu. Duduk di atas perahu viber bermesin tempel 4 jam lebih akhirnya bisa sampai ke desa Kulo Dalam.
Ada hal yang menyenangkan di sepanjang perjalanan. Yakni bisa membelah belantara Halmahera lewat sungai dan melihat keaslian hidup warga setempat dengan harmony serta keramahan ketika memasuki kampung mereka.
Asal Mula Kampung Kulo
Kampung Kulo secara administrasi masuk wilayah Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Nama dusun Kulo menurut penuturan beberapa tetua kampung adalah Kulo Kulaga Mandala Siaga. Dulu mereka menyebutnya begitu. Meski demikian nama ini kurang populer. Mereka juga mengaku tidak tahu siapa yang pertama kali memberi nama ini. Kini orang-orang lebih banyak menyebutnya Kulo Dalam.
Awal pembentukan kampung menurut cerita beberapa tetua kampung, terjadi sekira 1909 saat ada kelompok warga dari pesisir mencari damar dan gaharu ke kawasan tengah hutan Halmahera menyusuri sungai Ake Jira. Dari situ kemudian mereka menetap dan menjadikan kawasan hutan di Ake Jira sebagai kampung/dusun hingga kini.
Sejarah dan waktu pembentukan kampung ini memang banyak versi. Ada juga yang menyebutnya dusun ini berdiri 1911. Tokoh adat Kulo Yohanis Koke menyebutkan awal pembentukan kampong ini dibangun sekelompok masyarakat Sawai yang datang dari pesisir. Mereka mendirikan perkampungan di tepian Sungai Akejira ini dan menamainya “Kulo” yang dalam bahasa Sawai berarti tempat yang dijaga.
Tempat yang dijaga itu, berkaitan dengan jere atau makam keramat yang diyakini sebagai nenek moyang orang Sawai bernama Cekel yang perlu dijaga. Artinya sudah hamper 110 tahun dusun ini berdiri tetap dihuni dan dijaga hingga kini.
Soal etnis di kampung ini, mayoritas dari suku Sawai tetapi juga ada dari Tobelo dan Galela, dua etnis dari Utara Halmahera. Bahasa mayoritas yang mereka gunakan adalah Sawaimeski begitu merekajuga paham bahasa Tobelo dan Galela. Mereka tetap menuturkan beberapa bahasa itu sebagai alat komunikasi keseharian.
Sekdes Desa Kulo Jaya Abner Dowongi menjelaskan, di Kulo Jaya total penduduknya mencapai 503 jiwa. Sementara di dusun Kulo Dalam ada 32 jiwa atau 11 kepala keluarga (KK) dengan 7 rumah. Berstatus dusun secara administrasi tidak terdaftar sebagai desa definitive tetapi tergabung ke desa Kulo Jaya Weda Tengah. “Dia tergabung dalam desa Kulo Jaya,” ujar Abner.

Warga Sawai Dalam membangun rumah di tepi sungai Ake Jira, mereka juga membuat tangga di dinding sungai untuk memudahkan mereka mengakses sungai baik untuk makan minum hingga untuk transportasi,foto Vicky
Hidup dari Memanfaatkan Hasil Hutan dan Bertani
Warga Kulo menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Mereka menanam tanaman tahunan seperti kelapa, pala dan cengkih Sementara tanaman bulanan sebagai pangan utama mereka adalah pisang, ubi, sayuran, dan tanaman lokal lainnya.
Untuk kebutuhan protein warga, memanfaatkan Sungai Ake Jira untuk mencari ikan, kerang udang dan lain-lain. Sementara kawasan hutannya ada sagu yang dijadikan sebagai bahan makanan pokok. Sebagian warga juga masih berburu rusa, babi atau hewan liar lainnya dengan cara ditombak, atau dipanah serta dijerat.
“Praktik-praktik ini sebenarnya dijalankan leluhur dan sampai saat ini kami masih jalankan. Ada perangkap tradisional yang namanya dodeso atau jerat untuk hewan seperti babi dan rusa,” cerita Yohanes Koke.
Hubungan kekerabatan dan kehidupan sosial di kampung ini masih sangat erat. Kegiatan gotong royong juga masih tetap hidup karena tetap dijaga warganya. Mereka masih saling membantu. Dalam membangun rumah baru atau memperbaiki atap rumah yang bocor maupun panen hasil kebun dilakukan bersama dengan tetangga.
“Musyawarah untuk mufakat menjadi landasan pengambilan keputusan, sehingga ikatan kekeluargaan kuat dan perselisihan jarang terjadi,” ujar Yohanes.
Dalam upacara adat suba jo baik dalam pernikahan perayaan natal penutupan tahun baru, penjemputan kunjungan selalu diiringi alunan musik dan tarian tradisional Yangere yang diwariskan turun temurun. Tarian ini diiringi musik dari alat tradisonal khas Tobelo seperti gitar hasil buatan sendiri dari kayu (kaste) menggunakan 2 senar maupun alat musik bambu yang dikenal dengan bambu tada. Alat musick ini dibuat dari potongan bambu yang dibenturkan ke tanah dan mengeluarkan bunyi atau nada.
Mama Aleksandrina (45 tahun) misalnya bercerita bahwa mereka juga masih menjaga pengetahuan lokal tentang menjaga hutan karena dari sana lelaki atau suami mereka bisa berburu mendapatkan tanaman, obat-obatan, hingga memanfaatkan untuk berbagai keperluan.
“Bikin saloy ( keranjang pengangkut hasil pertanian orang Halmahera,red) harus diambil di hutan. Sementara hutan harus dijaga dan dihargai tinggi,” katanya.
Hal ini mereka sadari karena dari hutanlah bisa hidup. Mereka juga masih mengajarkan kepada anak cucu sejak kecil, tentang pentingnya menjaga dan melindungi hutan. Kampung Kulo terasa nyaman. Tidak terdengar bising bunyi mesin, apalagi polusi asap kendaraan. Sungai, hutan, dan ladang bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga rumah dan ruang spiritual. Warganya turut menjaga keseimbangan ekologi sekaligus melestarikan warisan budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
“Kalau hutan hilang, kami kehilangan hidup. Kami tidak bisa pisah dari alam, karena di sanalah leluhur kami tinggal,” ujar Yohanis Koke, Kepala Suku sekaligus juru kunci makam Cekel.

Salah satu warga Sawai Dalam yang hendak menuju hutan untuk berburu,foto Vicky
Tentang Alam yang Dijaga Warga Kulo
Sejak berdiri seabad lalu. Kampong di tepian Sungai Akejira dinamai Kulo yang memiliki makna mendalam. Nama itu tak sekadar penanda geografis. Itu juga adalah penghormatan kepada Lagae Cekel simbol identitas budaya dan spiritual orang Sawai.
Cerita turun- temurun yang dikisahkan warga, bahwa Lagae Cekel dikenal sebagai orang sakti, bijak, dan menguasai dua belas bahasa daerah di Maluku, dari Tobelo, Galela, hingga Sawai. Kisah Cekel bagi orang Sawai sangat heroik. Dia dikisahkan sebagai utusan kesultanan Tidore yang menyeberangi laut menuju Tidore hanya dengan sebatang galah. Ini menandai kesetiaannya pada Kesultanan dan kemampuannya mengatasi rintangan alam. Ia wafat di tengah hutan Halmahera, dan makamnya kini diyakini berada tiga kilometer dari kawasan Transmigrasi Kobe Kulo, yang dikenal dengan sebutan Jere Lagae Cekel.
“Jere itu tempat suci. Kami tidak boleh merusak hutan di sekitarnya, karena di sanalah leluhur kami bersemayam,”tutur Yohanis Koke.
Setiap pohon, setiap aliran sungai, dan setiap batu di sekitar Jere dianggap bagian dari warisan hidup yang dilindungi dan harus dilestarikan. Bagi masyarakat Kulo, menjaga hutan bukan sekadar menjaga tanah, melainkan menjaga identitas, sejarah, dan keberlangsungan hidup.
“Ini bukan cuma tanah, tapi kehidupan kami. Kalau hutan hilang, sejarah dan roh leluhur pun ikut hilang,” kata Yohanis.
Hutan di sekitar Kulo juga berperan sebagai pengetahuan masyarakat Sawai. Di hutan itu mereka belajar tentang musim, tumbuhan obat, lokasi berburu, dan pola tanam yang sudah diwariskan turun-temurun. Setiap ritual adat, dari panen hingga upacara spiritual, selalu terkait dengan hutan dan sungai yang menyejahterakan masyarakat sekaligus menegaskan hubungan mereka dengan leluhur.
“Kampung Kulo ini cermin harmoni manusia dan alam, sejarah, spiritualitas, dan ekologi saling terkait. Kehilangan hutan bukan hanya menghapus flora dan fauna, tapi juga memutus hubungan masyarakat dengan leluhur dan meminggirkan nilai-nilai budaya yang telah bertahan lebih dari seratus tahun,” tutup Yohanis
Alfonsius Gabariel Budiman, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora-Universitas Halmahera (Uniera) dalam riset tentang orang Sawai, menjelaskan, Cekel disebut cikal bakal keturunan Sawai yang mendiami pesisir Weda bagian Timur yakni Desa Kobe Gunung, Kobe Peplis, Lelilef Wo’e Bulan, Lelilef Sawai, Gemaf, Sagea, Yeke, Sepo, Wale, Mesa dan Dote.
Orang Sawai percaya Cekel, selalu melindungi mereka ketika berada dalam ancaman bencana alam, manusia yang ingin membunuh atau juga ketika sakit. Mereka yakin ketika ada orang masuk hutan Sawai tanpa izin dari masyarakat setempat akan mendapat malapetaka.
Karena itu, kalau ada perusahaan masuk wilayah ini harus minta izin melalui tua–tua adat Sawai dengan membuat upacara khusus meminta izin pada roh nenek moyang Cekel agar selamat dari bahaya.
“Dari pandangan mereka lebih tinggi itu disebut Jou (Tuhan). Ada juga yang melihat bahwa Jou itu sebutan Kepada Sultan,”tulis Alfonsius dalam risetnya.
Sawai, katanya, memiliki makna air yang terpancar. Masyarakat Sawai hingga kini masih punya kepercayaan pada pohon, batu, dan goa–goa yang dianggap keramat. Bagi mereka ada kekuatan khusus. Selain itu, satu kepercayaan lagi adalah kepercayaan terhadap Legae Peay, setelah moyang Suku Sawai Cekel, meninggal dimakamkan di satu tempat yang diberi nama Lagae Lo’y (orang/paitua besar). Tempat ini selalu dipakai sebagai berziarah bagi orang Sawai. Kini, warga Suku Sawai penduduk memeluk Islam dan Kristen Protestan.
Selain masyarakat adat Sawai, juga ada Tobelo Dalam. Mereka hidup di pedalaman hutan Halmahera Tengah. Mereka diperkirakan datang dari Boenge Tobelo, satu kawasan di Halmahera Utara. Sebagian dari mereka ini masih nomaden di tengah hutan Halmahera. Sering juga Orang Tobelo Dalam turun ke pantai.

Kenyamanan dan ketenangan warga sawai dalam memanfaatkan hutan dan sungai kini mulai terancam oleh tambang, foto Vicky
Ketenangan yang Kini Terusik Tambang
Cerita kehidupan warga Kulo Dalam yang tenang, dan damai dengan semua kebutuhan hidup yang berada di kebun dan hutan kini terusik. Sejak 2020, ketika tambang masuk Halmahera Tengah masyarakat Kulo mulai merasakan ada perubahan.Aktivitas tambang menggerus ruang hidup mereka. Air sungai keruh, tanah yang mongering dan udara berdebu mulai terasa. Sungai Akejira, yang hamper ratusan tahun menjadi nadi kehidupan, kini berubah warna.
“Dulu sungai itu tempat kami mandi, minum, dan mencuci,sekarang airnya keruh dan berbau logam. Kami takut anak-anak sakit kulit.” ,” tutur Yohanis Koke.
PT WBN bersama Tsingshan Holding Group, menguasai ribuan hektare hutan di Halmahera Tengah. Ekspansi industri ini menimbulkan ancaman ekologis serius bagi Weda Tengah. Dari sungai yang keruh, hutan yang dibabat, hingga lahan pertanian yang kini sebagian telah masuk konsesi tambang. Aktivitas ini menimbulkan dampak langsung ke warga termasuk yang ada di desa Kulo Dalam.
“Pada Mei-Juni 2025, banjir besar melanda Kulo. Air setinggi satu meter menenggelamkan rumah dan kebun, meninggalkan lumpur merah pekat di jalan kampung. Air datang cepat sekali, tidak ada hujan sebelumnya. Kami tahu ini bukan banjir biasa. Itu lumpur dari tambang ,”kenang Yamris Koke, warga Kulo
Lima bulan berselang, Oktober 2025, banjir kembali terjadi. Meski hujan tak turun di kampong dan kebun, banjir tiba tiba datang. Ada hujan di hulu, banjir pun datang membawa material lumpur. Dugaan warga, sedimentasi material tambang di hulu telah mengubah aliran sungai.
“Kalau dulu sungai tenang dan jernih, sekarang cokelat seperti kopi saat banjir ,”kata Yamris.
Setiap kali banjir kebun warga tertimbun lumpur dan ikan- ikan mati. Dusun Kulo Dalam yang masuk desa Induk Kulo Jaya adalah 1 dari 13 desa di Weda Tengah yang wilayahnya kini berdampingan langsung dengan perusahaan tambang maupun kawasan industry nikel PT IWIP.
Data BPS Maluku Utara (2022) mencatat, dari jumlah desa itu total warga berjumlah 12.986 jiwa. Wilayah ini dulunya hutan primer dan menjadi hutan Suku Sawai. Di sini mereka menggantungkan hidup. Sebut saja hasil hutan non-kayu seperti rotan, damar, dan sagu.
Ekspansi tambang kini mengubah wajah hutan Halmahera Tengah terutama di Weda Tengah. Data Forest Watch Indonesia (2024), Malut kehilangan lebih dari 11 ribu hektare tutupan hutan dalam lima tahun terakhir. Dari jumlah itu sebagian besar ada di sekitar kawasan WBN dan IWIP. Dari data itu juga menunjukan deforestasi di Weda Tengah mencapai 2.300 hektare per tahun akibat pembukaan jalan tambang dan area penimbunan ore.
“Yang kaya mereka yang punya tambang. Kami hanya dapat lumpur dan sakit. Air yang dulu sumber kehidupan, sekarang membawa racun,”kataYamris lirih.

Kehidupan warga Sawai Dalam yang biasa berkumpul dan bergotong royong dalam melakukan berbagai pekerjaan, foto Vicky
Kini meski tekanan industri makin kuat, masyarakat Kulo menolak pergi. Tetap menjaga Jere Lagae Cekel, situs sakral tempat leluhur bersemayam. Setiap bulan, ritual adat mereka gelar untuk memohon keseimbangan alam.
“Selama hutan masih berdiri, leluhur masih bersama kami. Kalau hutan rusak, bukan cuma air yang hilang, tapi juga jiwa kami,”katanya.
Kini, di tengah deru mesin tambang dan kicau burung yang semakin jarang terdengar, Kampung Kulo menjadi simbol perlawanan sunyi masyarakat adat Sawai, berdiri di batas terakhir hutan Halmahera, melawan dengan cara mereka: menanam, menjaga, dan berdoa. Di Jere Lagae Cekel, setiap upacara dimulai dengan kalimat sederhana namun sarat makna: “Torang jaga hutan, karena hutan juga jaga torang.”
Disclimer:Tulisan ini juga sudah terbit di Mongabay.co.id
- Penulis: Redaksi
