Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science
- account_circle Redaksi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 14

Kus kus mata biru yang ditemukan di kawasan pulo Tareba, foto ist
Dalam mendukung pemantauan dan pengelolaan kelestarian biodiversitas dibutuhkan data lapangan yang lebih luas. Menghadapi tantangan luasnya wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi menyelenggarakan DESAIN #8 (Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi yang memberi Peran Citizen Science dalam Transformasi Data Biodiversitas belum lama ini.
Penguatan ekosistem data biodiversitas nasional melalui pemanfaatan Citizen Science, sains data, dan teknologi digital ini sangat dibutuhkan di era digital.
Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Esa Prakasa, berharap hal ini dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengumpulan data ilmiah menjadi salah satu pendekatan penting memperkuat basis data biodiversitas Indonesia.
“Citizen Science membuka peluang bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam pengumpulan dan dokumentasi data biodiversitas. Dengan dukungan sains data dan kecerdasan buatan, data yang dihimpun dapat memiliki kualitas dan nilai guna yang lebih tinggi untuk penelitian maupun pengambilan kebijakan berbasis bukti,”ujarnya.
Perkembangan platform digital memungkinkan pencatatan keberadaan spesies, pemantauan habitat, hingga pelaporan perubahan lingkungan dilakukan secara lebih luas dan berkesinambungan.
Hal ini berpotensi meningkatkan cakupan spasial dan temporal pengamatan biodiversitas di Indonesia. Rahardito Dio Prastowo yang membahas tantangan pengelolaan data Citizen Science, khususnya permasalahan data sparsity dan class imbalance pada data keanekaragaman hayati.Mengkaji tantangan utama dalam pemanfaatan data dari platform seperti iNaturalist, eBird, dan GBIF, yang umumnya memiliki distribusi tidak merata.
Hanya sebagian kecil spesies yang memiliki jumlah observasi sangat banyak, sementara sebagian besar spesies memiliki data yang terbatas.
Kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas analisis, identifikasi spesies, pemodelan distribusi spesies, hingga pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan.
Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Sains Data dan Informasi itu membahas penyebab dan karakteristik permasalahan, berbagai pendekatan yang telah digunakan untuk mengatasinya, serta tren penelitian dan peluang pengembangan di masa depan guna meningkatkan kualitas pemanfaatan data Citizen Science dalam mendukung konservasi dan pemantauan keanekaragaman hayati.
Sementara, Denis Albihad dari Javan Wildlife Institute (JAWI) memaparkan pemanfaatan data biodiversitas untuk mendukung upaya konservasinya. Begitu juga Swiss Winnasis dari Birdpacker Indonesia menjelaskan inovasi teknologi dalam monitoring dan konservasi satwa liar.
Esa berharap ini menjadi wadah mempertemukan peneliti, praktisi konservasi, komunitas, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kolaborasi lintas sektor. “Transformasi data biodiversitas tidak dapat dilakukan satu pihak saja, sehingga dibutuhkan kolaborasi antara peneliti, komunitas, organisasi konservasi, dan masyarakat agar data yang dihasilkan lebih terbuka, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia,” harapnya.
Selain memperluas wawasan mengenai tantangan dan peluang Citizen Science, kegiatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi pengembangan platform data biodiversitas, riset kolaboratif, publikasi ilmiah, hingga policy brief yang mendukung konservasi keanekaragaman hayati serta dapat memperkuat pemanfaatan sains data dan teknologi digital. Dengan demikian dalam pengelolaan biodiversitas dapat mendorong partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dari ekosistem riset dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.(*)
- Penulis: Redaksi
