Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Arah  Baru  Tata Kelola  Kota  Tidore  Kepulauan 

Arah  Baru  Tata Kelola  Kota  Tidore  Kepulauan 

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
  • visibility 392

Penulis: ABDUL MOTALIB ANGKOTASAN

DIREKTUR BORERO INSTITUTE MALUKU UTARA

Kabar tentang Sail Tidore sudah menyeruak sejak beberapa tahun yang lalu. Hal ini membuat Pemerintah Kota Tidore Kepulauan bekerja keras dan memfokuskan segala pikirannya demi kesuksesan iven nasional ini. Kota ini menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran seperti yang tertuang dalam spirit yang menjadi nafas disetiap pengambilan kebijakanya. Toma Loa Se Banari, itulah komitmen dan ikrar suci yang tertulis indah pada logo Kota Tidore Kepulauan.

Kota ini punya sejuta cerita masa lalu, kebudayaan dan potensi sumberdaya alam. Jika dikelola dengan baik dan tepat, akan mampu mendorong perekonomian kota dan mensejahterakan warga kota. Benteng-benteng peninggalan penjajah masih berdiri kokoh, memberi pesan bahwa kota ini menjadi potensial di zamannya. Punya sejarah yang dapat dijual dalam mengakselerasi pembangunan bidang kepariwisataan. Ya kota jasa itu, kota jasa berbasis agromarine yang sudah didengungkan oleh pemimpin daerah ini sejak mendapat mandat rakyat pada periode pertama tahun 2016-2021. Lalu pada periode kedua mengusung visi Membangun Masyarakat Sejahtera Menuju Tidore Jang Foloi. Jika disingkat, Sejahtera Warganya, Indah Kotanya. Sayangnya, mimpi itu masih jauh panggang dari api. Belum ada cukup bukti pencapaian visi-visi termasyhur itu.

Kota jasa berbasis agromarin, jika diterjemahkan secara bebas artinya kota yang dibangun dengan mengeksploitasi sumberdaya pertanian, kelautan dan perikanan. Mengelola semua potensi itu demi menyuguhkan pelayanan terbaik untuk memperoleh pundi-pundi dalam pendapatan asli daerahnya. Mendorong sektor pariwisata agar bisa mendapatkan efek dari jasa lingkungan, kebudayaan dan sejarah. Untuk mewujudkan masyarakatnya sejahtera dan kotanya indah. Akan tetapi, semua itu belum bisa mendapatkan jempolan dari semua pihak.

Kota Tidore Kepulauan, butuh arah baru dalam tata kelola potensi yang dimilikinya. Di tengah geliat industri 4.0 dan era disrupsi. Butuh transfromasi dalam merumuskan kebijakan tatakelola Kota Tidore Kepulauan. Pertanyaannya, tranformasi seperti apa yang harus dilakukan?.

Potensi

Kota yang bercirikan kepulauan, punya potensi sumberdaya alam yang dapat dikelola untuk kesejahteraan masyasrakat dan kemajuan daerah. Potensi pulau-pulau kecil yang eksotis, dapat dikembangkan sebagai spot pariwisata buat menambah pundi-pundi pendapatan daerah. Pulau Maitara mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata, mejadi pilihan favorit warga kota Tidore dan Ternate untuk berlibur. Ada juga Pulau Mare, Pulau Filonga dan pulau-pulau kecil di wilayah Oba. Pulau Mare punya kearifan lokal yang membuat pulau ini dijadikan sebagai kawasan konservasi. Meski, pengembangan pariwisatanya tidak sehebat Pulau Maitara. Mungkin karena aksesibilitas, atau masih minimnya perhatian pemerintah.

Cengkeh dan pala, dua komoditi unggulan yang menjadi alasan imperialism Eropa bercokol ratusan tahun di negeri ini. Cengkeh dan pala masih ditanam dan diproduksoi oleh masyasrakat. BPS melaporkan pada tahun 2018 Produksi pala 176 ton dan cengkeh 267 ton. Sayangnya, belum ada terobosan lebih untuk mendorong komoditas ini naik kelas. Dulu dicari Eropa, namun sakarang hanya tinggal kenangan. Harapannya, komoditi ini ke depan juga bisa tembus pasa Eropa. Bukan mustahil, jika diurus dengan serius oleh pemerintah Kota Tidore Kepulauan lewat PERUMDA AMAN MANDIRI. Semoga!.

Sektor kelautan perikanan menjadi yang paling seksi, punya ekosistem terumbu karang yang indah. Ada ekosistem mangrove di Guraping, Rum, Mare, Maitara dan Tidore. Di dalamnya tersimpan beragam organisme asosiasi yang dapat diambil buat pemenuhan kebutuhan masyasrakat. Bahkan bisa dikembangkan sebagai kawasan wisata yang eksotis dengan sentuhan kreatifitas.

Kota ini, mewarisi budaya dan sejarah masa lalu. Ada tarian, iven-iven kebudayaan, kadaton kesultanan dan lain-lain. Benteng-benteng peninggalan penjajah, sejarah perjalanan kesultanan, sejarah kepahlawanan Sultan Nuku dan lain sebagainya. Potensi budaya dan sejarah ini, juga belum dapat dikemas dengan apik buat kantong keuangan pemda bertambah.

Pantai Yehiu: Pulau Tidore dilihat dari Oba Tikep

Transformasi

Mencermati potensi yang dimiliki dan peluang dengan diselenggarakannya Sail Tidore. Patut disyukuri dan diapresiasi. Namun, untuk melakukan akselerasi percepatan pembangunan di kota ini, butuh lima langkah transformative dalam kebijakan-kebijakan pembangunanya. Pertama, digitalisasi data. Data potensi sumber daya alam, kebudayaan dan sejarah perlu mendapat sentuhan di era digitalisasi saat ini. Pemerintah harus memastikan semua datanya terpublikasi secara digital, detil dan dapat diakses oleh semua orang. Caranya, website pemerintah kota difungsikan dengan maksimal untuk menayangkan data dan informasi terkait potensi yang dimiliki. Pasalnya, selama ini website pemda mati suri.

Kedua, memprioritaskan potensi unggulan daerah dalam kebijakan pembangunan. Pemerintah harus menentukan skala prioritas, dengan begitu alokasi anggaran dapat digelontorkan pada sektor prioritas sebagai pembagkit geliat ekonomi kota.  Pasalnya anggaran daerah terbatas, tahun 2021 APBD daerah tercatat 883.654 miliar, jika dipotong belanja pegawai maka tidak cukup untuk mengurus seabrek urusan di daerah. Sebaiknya pembangunan difokuskan untuk membangun sektor pertanian denga dua komoditi unggulan, cengkeh dan pala. Dikemas dalam konteks jasa ekosistem, sehingga pertanian dan pariwisata bisa tumbuh. Tentukan kawasan di Pulau Tdiore yang dijadikan Agro Park cengkeh dan pala atau kebun raya cengkeh dan pala. Jadikan ini destinasi wisata, buat berbagai turunan produk dari cengkeh dan pala yang dapat dijual di kawasan tersebut. Sektor perikanan dapat mendorong produk kuliener berbahan baku sumberdaya perikanan, ada abon ikan, ikan asap dan lain-lain. Pastikan kualitasnya baik, kemasannya baik dan harganya terjangkau.

Ketiga, collaborative action. Rezim pembangunan saat ini berbasis kolaborasi aksi. Para ahli saat ini mendorong kolaborasi pentaheliks yakni kerjasama pemerintah, perguran tinggi, LSM, Swasta, Pers dan Masyarakat. Dengan catatan, kolaborasi dilakukan secara professional tanpa main mata. Masing-masng unsur berperan secara professional dalam tugas sesuai fungsinya. Pemerintah tidak harus mendikte dan bekerjasama untuk membuat skenario seolah-olah terbaik. Biarkan semuanya berjalan normal tanpa embel-embel apapun. Ini akan menjadi pembelajaran yang baik bagi generasi dan legesi terbaik untuk ditindak lanjuti di masa depan. LSM sebagai wadah berhimpun masyarakat menjalankan perannya untuk memberi masukan dan mengkritisi pemerintah jika keliru, sebaliknya pemerintah perlu menjawab secara elegan berbasis data terkait segala yang dikritisi LSM. Tidak perlu ada praktek bungkam membungkam dalam dialektika kolaborasi ini. Pers sebagai salah satu pilar dalam demokrasi harus menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Menjunjung tinggi etika pers, memberitakan kebenaran atas dasar fakta. Perguruan Tinggi dilibatkan dalam riset dan inovasi untuk membantu pemerintah menjalankan tugas-tugasnya. Dengan begitu, akan mendoorng swasta untuk berinvestasi yang pada akhirnya menambah income dan membuka lapangan kerja. Akan sejahtera masyarakatnya dan pastinya Tidore Jang Foloi bisa terwujud.

Keempat, investasi sektor unggulan. Dengan data potensi berbasis digital yang dimiliki, akan mempermudah investor untuk mengkalkulasi dan memproyeksi kelayakan berusaha di daerah ini. Pemerintah harus mendorong adanya investasi di sektor ungulan seperti paiwisat, pertanian, kelautan dan perikanan. 

Semua yang telah terjadi adalah preferensi, yang dihadapi kini dan nanti adalah realitas. Namun kita harus tetap punya harapan untuk bangkit berbenah. Harapan bahwa kota ini perlu tumbuh dan berkembang. Langkah transformatif perlu dilakukan untuk mencapai setiap mimpi dan cita yang tertoreh indah dalam untaian kata-kata visi misi. Siapapun pemimpinnya, akan dikenang karena legaci dalam kepemimpinan. Sejarahlah yang akan menjadi hakim terbaik dalam kehidupan. Semoga Kota Ini Maju dan Sejahtera di bawah panji-panji kebenaran hakiki. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tangkap Tuna Makin Jauh, Ukurannya juga Makin Kecil

    • calendar_month Sab, 20 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 355
    • 1Komentar

    Ikan Tuna yang ditangkap nelayan Ternate saat diturunkan di tempat pendaratan ikan dufa dufa foto M Ichi

  • Merintis Ekonomi Nelayan Kecil dengan Koperasi

    • calendar_month Jum, 10 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Foto bersama usai kegiatan RAT Koperasi Bubula Ma Cahaya foto MArwan

  • Mangrove di Maluku Utara Makin Terdesak

    • calendar_month Sel, 1 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 483
    • 0Komentar

    Butuh Kolaborasi Multi Pihak Selamatkan Mangrove Berdasakan data terbaru one map mangrove yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Maluku Utara memiliki hutan mangrove  mencapai 41.228,7 hektar. Dari luasan itu, kondisinya semakin hari semakin terdesak. Baik oleh pemukiman, industri ekstraktif, perkebunan, tambak bahkan perluasan kota. Mangrove juga menjadi sumber bahan bakar  sebagian masyarakat  di […]

  • Berbagai Pihak Bedah Air Tanah Pulau Ternate

    • calendar_month Ming, 3 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 462
    • 1Komentar

    DPRD: RPJPD dan RPJMD Harus Akomodir Masalah Sumberdaya Air Komunita Besa ma Cahaya Kota Ternate Kamis (1/9/2023) malam, menggelar  Focus Group Discussion (FGD) membahas tema Cinta Tanah Air? Konservasi AirTanah, Selamatkan Airtanah Ternate.  FGD  ini sebgai bagian dari tindaklanjut kegiatan sedekah air hujan yang dilaksanakan komunitas Besa ma Cahaya baik di Kota Ternate maupun Pulau […]

  • Pasca Longboat Terbalik, Bupati Instruksikan PNS Sumbang Pelampung

    Pasca Longboat Terbalik, Bupati Instruksikan PNS Sumbang Pelampung

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Entah apa yang ada dalam benak Bupati Kabupaten Kepulauan Sula Ahmad Hidayat Mus,  pasca tragedi kecelakaan longboat dari Mangole Tujuan Sanana pertengahan September lalu, dia lalu mengeluarkan instruksi untuk seluruh PNS daerah itu. Instruksi tegas mewajibkan untuk menyumbang tiap orang satu pelampung atau life jaket untuk diserahkan ke long boat atau alat transportasi lainnnya. Kecelakaan […]

  • KLHK Sosialisasikan FOLU Net Sink 2030 di Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net-Sink 2030 merupakan suatu kondisi dimana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030 merupakan   Komitmen Indonesia  untuk mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030 […]

expand_less