Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
  • visibility 947

Peristiwa tidak biasa terjadi di pantai Kelurahan Sasa Kota Ternate Selatan Kota Ternate Maluku Utara  Minggu (10/9/2023) pagi.  Warga di  kawasan pantai  RT05/RW02  itu digegerkan adanya ribuan ikan mati terdampar. Kawasan pantai  yang juga dipenuhi berbagai jenis sampah baik plastic dan  sisa aktivitas rumah tangga itu berserakan bangkai beberapa jenis ikan.

Beberapa    yang diidentifikasi adalah  jenis ikan sembilan dan ikan baronang.  Ikan ikan ini mati dan bercampur dengan sampah di  pantai Sasa. Warga setempat mengaku baru tahu sekira pukul 09.00 WIT.

“Ikan mati ini baru ditemukan Minggu pagi ini. Saya ke sini sudah  lihat  ikan- ikan kecil mati berserakan,” kata Risno nelayan Kelurahan Sasa. Dia mengaku tak tahu penyebab ikan- ikan itu mati.

Akibat sampah juga ikan mati yang berserakan,   tercium aroma tidak sedap mengganggu kenyamanan warga yang rumahnya dekat dengan bibir pantai.  Haidir  (60 tahun) warga Sasa  mengaku, kejadian ini diketahui Minggu pagi. “Pagi tadi baru tahu, ada banyak ikan mati di pesisir pantai. Tapi, kita tidak tahu penyebabnya,”  katanya.  

Yunita juga warga Sasa menyampaikan bahwa selain ikan mati, sampah plastik yang terdampar di pesisir pantai ini  juga sangat mengganggu. Sampah diakui  berasal dari warga di ketinggian  yang membuang ke selokan atau saluran air lalu terbawa  dan menumpuk   serta mengotori  pesisir pantai Sasa. Dulunya pesisir pantai ini, menjadi tempat anak- anak  mandai di pantai. Tapi belakngan sejak banyak sampah mereka enggan  mandi di pantai lagi.

Ikan-mati-menumpuk-bersama-sampah-di-tepi-pantai-Sasa foto Cermat

Terkait kematian ikan, Yunita mengaku,kejadian seperti ini sudah beberapa kali, tapi tidak sebanyak sekarang. “Ikan yang mati sekarang ini sangat banyak,” katanya. Lalu apa penyebab kematian ikan ini?  

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate mengaku sudah mengambil sampel.  Baik ikan maupun air lautnya. “Kita baru akan lakukan uji sampel untuk mengetahui sumber pencemar hingga ikan di pesisir pantai Kastela ini alami kematian massal. Sampel yang diambil  akan diuji di lab Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit  (BTLPP) Manado,” jelas Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Ternate, Syarif Tjan.

Dikonfirmasi Minggu malam dia mengaku baru mengambil sampel. Dari sampel itu  ada lima parameter yang akan diuji yakni parameter fisik, kimia, biologi, logam terlarut dan radiologi  “Ini adalah data yang nanti dbutuhkan untuk mengetahui sumber pencemar matinya ikan di pesisir pantai Sasa ini,” jelasnya..    

Doktor Muhammad Aris Peneliti  dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate bilang, soal ini diperlukan analisis sampel di laboratorium. Namun katanya kalau melihat  kematian ikan secara massal seperti ini, merupakan karakteristik kematian ikan karena penyakit non pathogen.  Artinya disebabkan bahan pencemar yang masuk badan air.  “Nah ini  yang harus dideteksi lebih mendalam jenis bahan pencemarnya kira- kira apa.  Makanya perlu  dilakukan studi secepatnya,”katanya.

Dia contohkan blooming algae itu salah satu penyakit non patogen tapi lebih karena faktor kualitas air yang turun secara drastis. Dia bilang lagi,  kematian ikan massal  seperti ini faktor pemicunya kualitas air yg tercemar atau menurun secara tiba-tiba  sampai level letal/mematikan. “Air bersifat toxic atau mengandung bahan beracun,” tutupnya.   

Kawasan-Pantai-Kelurahan-Sasa-yang-kotor-sampah-dan-berlumpur. Foto Cermat

Sementara soal uji lab dan analisis sampel tidak bisa cepat  karena  tidak bisa dilakukan  di lab FPIK Unkhair. Alat di laboratoium  juga tidak ada. Karena itu sampel yang diambil mesti diuji di luar Maluku Utara. “Pengalaman saya uji sampel, dikirim ke Jakarta, Bogor atau Makassar,” katanya.

Senada, peneliti dari FPIK Unkhair lain  Doktor Nurkhalis Wahidin mengatakan, mesti ada kajian dan analisis karena perlu ada  pembuktian. Soal kematian ikan secara  massal itu, biasanya karena ada perubahan ekstrim di lingkungan laut. Diantaranya perubahan suhu yang cepat, terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kadar racun di badan air yang meningkat tinggi, atau kadar  oksigen yang menurun drastic.  Sumbernya dari banyak faktor.

“Saya belum bisa pastikan dari mana sumber penyebab perubahan lingkungan laut ekstrim, kalau sampah, ini bukan masalah baru, tapi tidak tau apakah ada unsure-unsur lain yang terikut di sampah di lokasi kejadian. “Itu   perlu ada kajian,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perempuan Tobaru Kembangkan Pangan Lokal

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 825
    • 1Komentar

    Dorci Polu (56) dan suaminya Herman Ime (60) Jumat siang di pertengahan Februari lalu itu duduk di depan rumah. Hari itu mereka  belum ke kebun  yang  berjarak sekira 3 kilometer dari Desa Togoreba Tua Kecamatan Tabaru Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara. Herman Ime duduk di  kursi sambil menatap ke arah jalan raya. Sementara Dorci langsung […]

  • Ketika Orang Hiri Menuntut Merdeka

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 729
    • 1Komentar

    Ingatkan  Pemerintah, Kibarkan Bendera Setengah Tiang   Hari masih pagi, sekira pukul 07.50 WIT sebuah speedboat mengangkut pegawai yang bekerja di Kecamatan Pulau Hiri Kota Ternate Maluku Utara. Mereka adalah pegawai yang akan gelar upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, Kamis (17/08/2023). Pegawai lelaki dan perempuan berbaju Korpri  itu  rata rata […]

  • Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

    • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 895
    • 0Komentar

    Kawasan Pasir Putih di Morotai Tertutupi Sampah Pulau-pulau di Maluku Utara saat ini sangat terancam dengan sampah. Terutama sampah yang masuk ke laut  dan kemudian kembali ke pantai.  Ada beragam jenis sampah ditemui di tepi pantai. Plastic terutama kantong kresek, botol bekas minuman, sachet  berbagai makanan ringan dan beragam kebutuhan lainnya. Tidak itu saja ada […]

  • Kampung di Tengah Kaldera, Talaga di Tidore dan Aogashima di Jepang  

    • calendar_month Kam, 14 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 1.322
    • 0Komentar

    Mengagumkan jika terdapat kampung atau pemukiman di tengah kaldera gunung berapi.  Baik  yang masih aktif maupun  yang sudah tidak lagi.  Benar saja ternyata kampung di tegah kaldera itu ada. Di Pulau Tidore Maluku Utara ada kampung bernama Talaga,  berada di tengah kaldera gunung api yang tidak aktif lagi. Sementara  di Negeri Sakura Jepang, terdapat  di tengah […]

  • CONSERVE, Kegiatan Pengarusutamaan Kehati Lintas Sektor

    • calendar_month Ming, 26 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 686
    • 0Komentar

    Kakatua Putih salah satu jenis burung yang dilindungi di Maluku Utara foto M Ichi

  • Kenalkan Kehati Malut Lewat Pameran Kehidupan Liar

    • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 809
    • 1Komentar

    Foto yang ditampilkam dalam pameran pertama yang dilaksanakan pada 2020 lalu

expand_less