Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Kuso Endemik Ternate, Terus Diburu untuk Dikonsumsi

Kuso Endemik Ternate, Terus Diburu untuk Dikonsumsi

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 5 Feb 2024
  • visibility 1.362

Perburuan kuso mata biru yang juga salah satu hewan endemic pulau Ternate,  benar- benar massive. Akibatnya  hewan bermata unik ini semakin sulit ditemukan. Pengakuan sejumlah warga di Pulau Ternate yang bertempat tinggal di kawasan barat  pulau, menjelaskan bahwa kuso  ini sudah jarang terlihat sekarang.

Jaib Sadek warga Sulamadaha Kota Ternate mengaku, dulu  hamper setiap saat kuso jenis ini sering  ditemukan. Bahkan  sampai mendatangi pohon  buah tak jauh dari pemukiman. Tetapi sekarang ini hewan tersebut sudah sangat jarang terlihat. Dia mengaku tidak tahu penyebabnya. Meski begitu dia curiga, karena ada sebagian orang menangkap dan mengkonsumsinya. “Sering kali ada yang bawa senapan angin dan menembaknya,”ujarnya. Dia mengaku, jika hamper setiap saat  berburu kuso ini tetap dilakukan baik terang- terangan maupun  sembunyi sembunyi.

Apa yang disampaikan warga Sulamadaha ini ada benarnya. Terbukti dengan adanya laporan yang diterima Kantor Seksi  BKSDA  Kota Ternate   yang terpaksa menjemput empat warga  dan diperiksa intensif.

“Pada  23 Januari 2024 kami periksa satu orang. Sebelumnya ada warga Takome  tahan para pemburu kuso tersebut kemudian melapor ke kami (BKSDA,red),” jelas Kepala Seksi BKSDA Ternate Abas Hurasan.   

Pihaknya  mendapatkan informasi dari warga Takome yang menahan   4 orang   lakukan perburuan terhadap kuskus di wilayah itu.  Mereka kemudian  dibawa ke kantor  untuk diminta  keterangan.  Ternyata kata Abas mereka menangkap kus-kus itu untuk dikonsumsi. Mereka beralasan  tidak tahu bahwa kus-kus Ternate itu masuk jenis dilindungi.

“Mereka  hanya  kami  berikan pembinaan sekaligus membuat pernyataan dan senjata yang mereka gunakan kami tahan,” jelas Abas.  

Kalau dilihat kondisi kus-kus  mata biru di Ternate kelihatannya sudah langka. Pihaknya  sering berpatroli untuk pencegahan. Tetapi selalu saja ada yang memburu hewan ini.

Untuk memastikan populasi hewan ini di Pulau Ternate  dan Tidore untuk tahun ini akan mereka lakukan kajian.Tahun ini rencananya di Tidore. Sementara untuk di Pulau Ternate akan diusulkan tahun depan.  

“Kami rencana kegiatan survey di Ternate itu tahun depan mudah-mudahan BKSDA wilayah Maluku dan Malut  menyetujui usulan tersebut,” harapnya.

Sementara Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pulau Ternate dan Tidore Ibrahim Tuhater dihubungi kabarpulau.co.id/ mengaku    belakangan ini memang marak perburuan kus kus terutama mata biru yang adalah endemik Ternate. Hal ini katany  perlu upaya bersama dan kolektif terutama untuk para aktivis lingkungan, Perlu  mendorong berbagai pihak peduli pada hewan yang masuk langka dan terancam ini. Dia bilang memang perlu ada  gerakan   dari pecinta lingkungan, namun perlu diinisiasi pemerintah.  Posisi KPH Ternate Tidore sendiri katanya  dari tahun lalu telah menyurat ke seluruh kelurahan untuk melarang warganya lakukan perburuan satwa.  Bukan hanya kus kus tapi juga satwa lain terutama endemik Maluku Utara.

“Kita sudah sampaikan surat resmi ke masing-masing kelurahan di kota Ternate untuk melarang warganya melakukan aksi penangkapan maupun membunuh satawa  terutama yang masuk endemic Malut termasuk kus kus dan hewan lainya termasuk jenis burung,” jelasnya.  

Sekadar diketahui ancaman terhadap hewan endemic sebenarnya tidak hanya karena masivenya perburuan. Masifnya pembangunan dan padatnya pemukiman selalu menjadi alasan status hewan endemik makin terancam, terutama seperti Kuskus mata biru ini.

Sekadar diketahui,  kuskus mata biru adalah hewan endemik  dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Hewan omnivora pemakan serangga, daun, dan buah. Orang Ternate menyebutnya kuso atau nama  latinnya Phalanger matabiru. Hewan ini memiliki  kantung mata besar dan berwarna biru. Beda dengan kuskus  daerah lain seperti  dari Sulawesi  yang  bermata hitam. ‘Keberadaanya juga sudah langka. Di Ternate,  selain karena perburuan juga karena  ekosistemnya  makin terancam. Terutama karena  bertambahnya pemukiman dan dibukanya  hutan ke daerah puncak pulau Ternate.  

Salah satu kawasan yang   jadi rumah Kuskus mata biru adalah di Kelurahan Takome yang juga  salah satu kawasan  ekowisata di Kota Ternate yakni Pulo Tareba.  Hewan nokturnal  dan   menyendiri ini beberapa spesies  telah dikategorikan kritis, terancam punah dan menuju kepunahan.

Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia berstatus dilindungi.  Internasional Union Conservation of Nature (IUCN) memasukan kuskus dalam redlist (buku merah) sebagai hewan vulnerable atau terancam   dan juga terdaftar dalam CITES Appendiks II. Dalam  daftar ini spesies ini berpotensi terancam punah  apabila diperdagangkan tanpa pengaturan.

Kuskus   telah dilindungi sejak tahun 1990 melalui Peraturan Perburuan Binatang Liar (PPBL) Nomor 226/1931, Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan Undang-Undang Nomor 7/1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.130
    • 2Komentar

    Kondisi PUlau Pagama saat ini. foto Wandi

  • Temuan KNTI, Masyarakat Pesisir Semakin Tersisih

    • calendar_month Rab, 12 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 631
    • 0Komentar

    Penyusunan Peraturan Daerah Rencana Zonasi Wilayah Peisisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) di semua provinsi, dinilai masih belum terbuka dan hanya melibatkan segelintir masyarakat pesisir yang menjadi stakeholder utama. Fakta itu diperkuat, dengan tidak adanya tahapan konsultasi mulai dari desa/kelurahan yang di dalamnya ada pulau-pulau kecil, kecamatan, hingga di kabupaten/kota. Kondisi yang sama juga terjadi di  Maluku Utara. […]

  • Serunya Kegiatan Halmahera Overland 4×4

    • calendar_month Sen, 18 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 709
    • 0Komentar

    Para peserta Hakmahera Overland 4×4 mengangkat batang kayu untuk membangin jembatan daruta agar bisa dilewati mobil yng mrtrks tumpngi, foto Dewahyudi

  • Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.262
    • 0Komentar

    Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.   Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa […]

  • Kepastian Ake Sagea “Tercemar” Tunggu GAKKUM KLHK

    • calendar_month Rab, 20 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 654
    • 1Komentar

    Direkotrat Jenderal (Ditjen) Penegakan Hukum (GAK-KUM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat dengan beberapa pihak dari Maluku Utara membahas persoalan Sungai Sagea pada Selasa (19/9/2023). Rapat tersebut dipimpin oleh Direktur Pengaduan, Pengawasan dan Sanksi Administrasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPSA-LHK) Ditjen. Gakkum KLHK Ardyanto Nugroho. Agenda ini sendiri merupakan tindak lanjut aspirasi dari […]

  • Kondisi Lingkungan Malut Kritis? (1)

    • calendar_month Ming, 28 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 784
    • 1Komentar

    Kondisi Sungai Wale Halmahera Tengah Foto Desember 2020

expand_less