Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita Indahnya Alam hingga Marak Perburuan Satwa Liar 

Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita Indahnya Alam hingga Marak Perburuan Satwa Liar 

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 79

 Penulis: Safri Rusdi Wartawan  Kabarpulau.co.id  

Rimbun pepohonan  dan suara burung dari kejauhan terdengar begitu menghipnotis. Laut biru yang yang terhampar luas dari punggung Danau Tolire, menyambut   hangat peserta pelatihan Jurnalisme Lingkungan yang digelar LSM Burung Indonesia bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Sabtu pagi hingga siang (25/7/2026).

Kawasan yang  lebih dikenal dengan Pulo Tareba di Kelurahan Takome, kecamatan Ternate Barat itu, dipilih panitia  karena berbagai kelebihan di dalamnya. Saat memasuki kawasan Pulo Tareba, di pintu gerbang disambut papan nama tertulis   “Pulo Tareba (Conservation and Camping Ground)”

Tak jauh dari situ ada spanduk bergambar satwa endemik seperti burung, Kasturi Ternate (Lorius garrulus), Kakatua Putih (Cacatua Alba) dan beberapa satwa endemik lainnya. Ada juga area camping  menghadap langsung  Danau Tolire dari ketinggian yang menakjubkan.

Air laut terlihat seperti lukisan alam yang indah, dengan latar hijaunya danau Tolire. Lokasinya di lereng Gunung Gamalama  di sisi Danau Tolire menjadikan Pulo Tareba  cocok  untuk wisata alam.

Pintu masuk Tareba foto, Safri Rusdi

Saat  di Pulo Tareba,   bertemu  teman pelatihan  dan ikut  diskusi bersama terkait  Pulo Tareba  dan  kondisinya saat ini.

Jandi [21 tahun]  juga  peserta pelatihan menjelaskan, Pulo Tareba menjadi lokasi wisata yang memiliki keindahan yang unik. Sudah dua kali  mengunjungi Tareba dan mendapat informasi tentang Tareba dari media sosial.

“Tempat ini sangat menenangkan, bisa mendengar suara satwa.Karena bagusnya mengunjung Tareba sudah berulangkali ,”  ujarnya.

Dia bilang di Pulo Tareba selain punya hewan endemik juga menyaksikan pemandangan dari ketinggian. Dari lebatnya   hutan  sekunder, hijaunya danau Tolire hingga menatap hamparan laut  yang luas dari ketinggian.

Menyaksikan Pulo tareba yang berhadapan langsung dengan  tolire, itu satu kenikmatan tersendiri bagi saya,” tambahnya.

Senada   Irawan Nasri [22], yang pertama kali  mengunjungi Pulo Tareba memuji keindahan Pulo Tareba.   “Pulo Tareba adalah permata di Kota Ternate ,”ucapnya.  Pemuda asal Sagea itu, berharap Tareba  harus seperti rumah yang harus terus dirawat.

Semoga Pulo Tareba ini, tetap terjaga, tetap lestari, dan   asri dari masalah sampah.” ucapnya.

Kus kus mata biru yang ditemukan di kawasan pulo Tareba, foto ist

Ancaman terhadap Kelestarian Kuskus Mata Biru

Pulau Ternate berdasarkan  data Badan Pusat Statistik (BPS)  luasnya kurang lebih 111,81 kilometer. Dari luasan  itu  menyimpan berbagai  satwa endemik yang   sebagiannya   kini terancam punah. Salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan satwa itu adalah Pulo Tareba dengan kus-kus mata biru dan berbagai jenis burung.

Menyadari keterancamannya, sebagian pemuda di Ternate yang tergabung dalam Komunitas Pulo Tareba bergerak  melindugi dan   menjaga kawasan Pulo Tareba sekaligus sebagai salah satu destinasi penting pariwisata di Kota Ternate. Mereka menyadari bahwa  satwa endemik seperti kuskus mata biru (Phallger mata biru).  menjadi sasaran pemburu untuk di makan.  Padahal kus-kus jenis ini telah dilindungi.

Di Indonesia ada beberapa jenis kuskus telah dilindungi dalam Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Meskipun sudah dilindungi,  keberadaanya   makin terancam akibat  perburuan dan  pembangunan pemukiman  yang menyasar kawasan  hidup satwa ini.

Keberadaan satwa nokturnal ini  makin langka karena perburuan yang massif.   Akhir Desember 2025 empat  warga asal Halmahera Barat (Halbar)  berburu satwa endemik yang dalam bahasa lokal disebut kuso itu. Perburuan   di kawasan hutan Kelurahan Loto, Kecamatan Pulau Barat, Kota Ternate.

Koordinator Komunitas Pulo Tareba Junaidi Ibrahim mengaku,   Desember 2025 lalu  ada  18 ekor dan satu kadal air (soa soa layar,red)  ditembak para pemburu.

Perburuan satwa endemik ini sudah  tiga kali sejak 2023 sampai 2025. Perburuan   terbanyak terjadi 2025 lalu.

Perburuan Kuskus Matabiru di Ternate sudah   berulang kali. Sayang belum ada sikap tegas Pemerintah Kota (Pemkot)  mendorong  Perda perlindungan satwa endemic ini. Sebelumnya para aktivis lingkungan juga telah menggelar  aksi, mendesak walikota segera membuat regulasi  melindungi  Kuskus Matabiru.Hanya saja sampai saat ini belum ada tindaklanjutnya.

Sepanjang  2024, tercatat  10 pelaku pemburu kuskus yang ditangkap. Januari 2024, warga mengamankan  lima pelaku pemburu kuskus di sekitar Danau Tolire, Pulo Tareba.

Kasus terakhir  Warga Kelurahan Takome, Ternate menangkap lima orang asal Halmahera Barat   yang sedang menembak puluhan ekor kuskus di kawasan hutan lindung Danau Tolire Besar.(*)

 

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemanfaatan Potensi Laut Maluku Utara Masih Minim

    • calendar_month Sel, 8 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 1.136
    • 0Komentar

    Setiap 8 Juni diperingati sebagai hari laut sedunia atau World Ocean Day. Peringatan ini untuk mengingatkan pentingnya lautan bagi kehidupan manusia karena   menutupi lebih dari 70% planet Bumi. Dikutip dari https://tirto.id/hari-laut-sedunia-2021-tema-8-juni-cara-rayakan-world-ocean-day-gg) menyebutkan bahwa   laut menjadi sumber kehidupan manusia, mendukung kesejahteraan umat manusia dan setiap organisme lain di bumi. Lautan menghasilkan setidaknya 50% oksigen Bumi, merupakan […]

  • Dulu Tebang, Sekarang Tanam

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 683
    • 0Komentar

    Cerita Warga Desa Kao Mulai Rehabilitasi Mangrove  Selasa (28/8) sore sekira pukul pukul 16.00 WIT, dua orang ibu, Iswati Mabang (45 tahun) dan Suparni Sulan (44 tahun) menyulam kebun bibit rakyaat yang berisi  anakan mangrove yang mati. Kebun bibit mangrove ini dibangun  kelompok Green  Kai Dati desa Kao Kecamatan Kao Halmahera Utara. Dua perempuan dari […]

  • Ini Problem Pembangunan Kota Pulau Ternate

    • calendar_month Sab, 3 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 923
    • 0Komentar

    Kota Ternate dilihat dari puncak kawasan taman Cinta Moya foto Mahmud ichi

  • Di Musyawarah IKAPERIK, Bahas Perikanan Malut dan Tantangan Era 4.0

    • calendar_month Ming, 24 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 531
    • 0Komentar

    Farid Terpilih Secara Aklamasi Ikatan Alumni Perikanan dan Kelautan (IKAPERIK) Universitas Khairun Ternate menggelar musyawarah memilih pengurus baru untuk masa jabatan 4 tahun ke depan Sabtu (22/1) kemarin.  Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gamalama Hotel Sahid  itu, turut diisi dengan seminar bertema   “Perikanan Maluku Utara dan Tantangan Industri era 4.0” Beberapa pemateri penting turut hadir yakni […]

  • Senjakala Hutan dan Lahan di Maluku Utara

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 986
    • 0Komentar

    WALHI: 2019 Malut Kehilangan 7.041 Ha Hutan Primer Maluku Utara terdiri dari pulau-pulau. Ada yang menyebut jumlahnya 805, dimana  berpenghuni  85 pulau  dan tak berpenghuni  723 pulau. Ada  juga data yang menyebutkan  jumlah pulau di Maluku Utara  ada1474. Dari jumlah itu 89 berpenghuni dan 1385 tidak berpenghuni.  Terlepas dari data jumlah pulau yang masih diperdebatkan, […]

  • Raja Ampat dan Halmahera, Surga yang Terluka di Timur Indonesia

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 806
    • 0Komentar

      Penulis Badrun Ahmad Dosen Universitas Khairun Di ujung  timur Indonesia, terbentang  gugusan pulau karang nan memesona: Raja Ampat. Hamparan atol dan atolnya yang berkilau di atas lautan biru jernih menjadikannya salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium […]

expand_less