Home / Lingkungan Hidup

Selasa, 9 Februari 2021 - 18:06 WIT

Akademisi: Ancaman Ekosistem Halmahera Serius

Maluku Utara sebagai daerah kaya bahan mineral,   menjadi incaran investor asing. Baru baru ini pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Samsudin Abd Kadir menyampaikan bahwa investasi asing masuk ke Maluku Utara yang mengelola tambang, sudah menginvestasikan modalnya di atas 100 triliun. Angka ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan menggenjot perekonomian Maluku Utara. Termasuk membuka lebar lapangan pekerjaan bagi masyarakat Maluku Utara. Belum lagi beredar  kabar   daerah ini dilirik salah satu perusahaan tambang raksasa PT Freeport   berencana  membangun smelternya di Maluku Utara dengan nilai investasi prestisus  Rp35. Triliuan.

Dilansir sejumlah media Jakarta, seperti dikutip dari (https://katadata.co.id/sortatobing/berita/601d72b94c425/freeport-hanya-tanggung-7-5-biaya-pembangunan-smelter-di-halmahera)  pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga itu akan dibangun di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera. Investasi ini diperkirakan akan menguntungkan PT Freeport Indonesia. Perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu hanya akan mengeluarkan biaya 7,5% dari total investasi yang mencapai US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 35 triliun. Sisa dana akan ditanggung mitranya asal Tiongkok, Tsingshan Steel. Targetnya, kedua perusahaan akan mencapai kesepakatan pada akhir Maret tahun ini.

Peta sebaran izin investasi tambang dan perkebunan monokultur di Maluku Utara sumber AMAN Malut

Akademisi Universitas Khairun Ternate Dr Asis Hasyim mengingatkan kepada pemerintah provinsi Malut untuk tidak jor-joran menerima investasi yang akhirnya menyengsarakan  masyarakat dan merusak  alam.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Khairun Ternate  doctor pada Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan konsetrasi ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan itu, menganggap kebanggan atas investasi yang begitu besar masuk  ke daerah ini,  menunjukkan pemerintah daerah sama halnya merasa bangga melihat semakin cepatnya laju penurunan tutupan hutan. Tidak itu saja,  ancaman  teralineasi-nya masyarakat Halmahera  dari ruang hidup, serta mendorong laju rusaknya ekosistem alam akibt ekstraksi sumberdaya  alam  secara massive.   

Dia bilang, dari sisi ekonomi pasti ada efek kejut. Baik  investasinya sendiri karena terdapat aliran sumberdaya finansial untuk pembangunan maupun reqruitment tenaga kerja yang dipandang pemerintah akan mengurangi pengangguran.  

Baca Juga  Perempuan Mapala Bicara Perubahan Iklim

Dalam soal ini  dia  ingatkan bahwa beberapa  kasus  yang terjadi di  wilayah tambang, bahkan  di Malut sendiri, kesejahteraan tampak saat investasi berlangsung sangat luar biasa. Tetapi sesungguhnya  yang didapat  itu kesejahteraan semu. “Istilahnya pseudo walfare,” katanya.

Menurutnya, dampak eksternalitas yang ditimbulkan akibat ekstraksi sumberdaya alam secara massive akan memberi tekanan ekologi yang besar. Beberapa  kasus tentang daerah dengan kekakayaan SDA justru terjerembab dalam kemiskinan pasca tambang. “Masyarakat hilang mata pencaharian akibat lahan dan laut pasca tambang diduga tidak lagi memberi kelestarian  lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati serta tumbuhan. Karenanya dibutuhkan perhatian serius pemerintah dalam memikirkan dan mengantisipasi pasca tambang.

“Tidak sekadar bangga dengan tingginya investasi di sektor tambang yang masuk ke Malut. Sebab, dikuatirkan  terjadi resource curse atau kutukan sumberdaya alam. Banjir di Halteng beberapa waktu lalu itu tak sekadar dilihat sebagai bencana alam. Sebab, riset menunjukkan bahwa bencana yang terjadi 80 persen disebabkan oleh variable antropogenik,  keserkahan atau ulah tangan manusia,” jelasnya. 

Hasil-kopra-warga-fritu-desa-yang-tak-jauh-dari-kawasan-tambang-IWIP.-Mereka-masih-bisa-panen-kelapa-karena-lahan-mereka-belum-dimasuki-tambang-foto-Mahmud Ichi-

Baginya Maluku Utara sebenarnya memiliki  potensi perikanan kelautan yang berlimpah. Juga punya leading sector pertanian. Tetapi yang terjadi selalu menjadikan tambang sebagai salah satu andalan. Ini yang membingungkan.  Ditambah lagi sistem pengawasan yang kurang maksimal dari instansi pemerintah seperti Dinas Lingkungan Hidup akibat anggaran pengawasan yang minim. 

“Soal anggaran ini pernah disampaikan Kadis DLH beberapa waktu lalu. Maka sesungguhnya dengan secara sadar kita sama halnya telah membangun kesepakatan untuk  memberi tekanan ekologi yang luar biasa kepada alam tapi tidak disertai pengawasan yang memadai. Ini sungguh sebuah keanehan,” cecarnya.

Perikanan Menjanjikan  Belum Diseriusi

Apa yang disampaikan Asis soal potensi perikanan ini juga disampaikan Profesr Dr Irvan Koda Dosen Fakultas Perikanan dan Keluatan Universitas Khairun Ternate. Menurutnya, Maluku Utara  kaya potensi perikanan dan kelautan. Tidak hanya perikanan tangkap dan potensi budidaya perikanan laut. Lahan budidaya perikanan air tawar, juga melimpah ruah. Besarnya potensi yang dimilki daerah yang lebih luas wilayah lautnya ini, ternyata miskin pemanfaatanya bagi kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga  Alihfungsi Lahan Penyebab Banjir di Halmahera Utara?

Dia bilang  potensi lestari perikanan Maluku Utara mencapai 517.000 ton/tahun. Pemanfaatannya  baru mencapai 150.232 ton.

“Pemanfaatannya baru 29 persen  sementara yang belum  dimanfaatkan 71 persen,” terang  Irvan.Saat menyampaikan  materi dalam Seminar Nasional Perikanan Maluku Utara dan Tantangan Industri 4.0 di Ternate baru-baru ini,  dia  jelaskan  bahwa untuk perikanan tangkap, Maluku Utara memiliki potensi Standing Stock  mencapai 1.035.230 ton/tahun.  

Sementara sumberdaya ikan yang tertangkap nelayan di Maluku Utara juga ada sekira 98 jenis, di mana 74 diantaranya bernilai ekonomis penting. Sementara 20 jenis merupakan komoditi perikanan yang bernilai ekonomis tinggi.

“Maluku Utara juga punya  komoditi unggulan misalnya  tuna,  dan cakalang, rumput laut, kerapu, dan udang vannamei.  Secara keseluruhan potensi sumberdaya (standing Stock) = 1.035.230  ton / tahun,” jelasnya.

Potensi lainnya jumlah nelayan di Maluku Utara mencapai 19056 orang  dan pembudiddaya ikan 7439  dari total penduduk 1.25, 771 orang.

Potensi  tidak hanya di laut  dan air payau. Di wilayah darat juga memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan terutama  budidaya ikan air tawar.

Sayang hingga kini budidaya ikan air tawar belum diusahakan secara maksimal di Maluku Utara.

Hasil panen rumput laut oleh siswa siswi SMK Periikanan di Kecamatan Joronga Halmahera Selatan

Dia  berharap  kekayaan luar biasa yang belum tergarap ini,  ada keseriusan pemerintah Provinsi Maluku Utara dengan mengambil langkah-langkah strategis demi menyejahterakan  masyarakat terutama nelayan.   

“Perlu segera ada pembenahan sarana dan prasarana. Kapasitas SDM nelayan dan keluarga nelayan juga perlu diperhatikan. Inovasi teknologi juga ditingkatkan. Selain  itu nelayan harus diberikan modal usaha dengan adanya dukungan dan kebijakan pemerintah Daerah,” katanya. (*)

Share :

Baca Juga

Lingkungan Hidup

Indonesia Petakan Kembali Mangrove untuk Karbon Biru

Lingkungan Hidup

Situs Terumbu Karang Terkaya Ada di Malut, Ini Hasil Kajianya

Lingkungan Hidup

Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

Lingkungan Hidup

Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

Lingkungan Hidup

55 Pulau Kecil Digempur Tambang dan Sawit Tak Dibahas Capres

Lingkungan Hidup

Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

Lingkungan Hidup

Tak Ada Zonasi Wilayah jadi Problem Ekowisata

Lingkungan Hidup

Mangrove Makin Terancam, Butuh Pelibatan Masyarakat