Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » KPK: Kampus Harusnya Kawal Perusahaan Tambang

KPK: Kampus Harusnya Kawal Perusahaan Tambang

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
  • visibility 811

Wilayah Provinsi Maluku Utara saat ini jadi incaran   industry ekstraktif tambang. Ada banyak perusahaan  yang memiliki izin dan beroperasi di Maluku Utara, baik dalam bentuk Izin Usaha Pertambangan (IUP) maupun  kontrak karya (KK). Sampai saat ini perusahaan  tambang yang telah beroperasi di Maluku Utara berjumlah 16 perusahaan  termasuk tiga kontrak karya. Yakni NHM di  Malifut- Kao Halmahera Utara, PT WBN–IWIP di Weda Halmahera Tengah dan Aneka Tambang di Maba Halmahera Timur. Selain tiga izin KK tersebut, ada puluhan IUP telah beroperasi di Maluku Utara.

Banyaknya IUP  yang  telah beroperasi itu, mestinya semua pihak (public, red) berkewajiban melakukan pengawasan. Salah satu lembaga yang memiliki kompetensi memantau dan menjaga  agar tidak terjadi kerusakan ekologi akibat eksploitasi itu adalah kampus.

Fungsinya di bidang  penelitian kampus mestinya  berada di garda paling depan menjaga agar lingkungan tidak hancur dan perusahaan tidak mengambil sumberdaya alam yang merugikan negara.

Permintaan ini disampaikan Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat mengisi kuliah umum di Kampus Universitas    Khairun Ternate Senin Rabu (11/11/2021) lalu.  Saat memaparkan materi  peran perguruan tinggi dalam pemberantasan korupsi, dia turut mempertegas peran kampus, salah satunya di bidang korupsi sumber daya alam yang mestinya mendapat perhatian penuh. Kampus katanya, mesti melakukan riset jika ada aktivitas pertambangan yang menyimpag dan menyebabkan kerusakan  ekologi.   Dia menekankan, peran kampus di situ yakni melakukan riset atas berbagai persoalan lingkungan yang terjadi akibat  aktivitas tambang.  “Kampus memiliki kewajiban melakukan kajian dan penelitian.  Punya fakultas atau jurusan lingkungan bisa melakukan kajian terkait banyaknya perusahaan tambang nikel di Maluku Utara saat ini,” kata Wakil Ketua  KPK. Kuliah umum yang dihadiri Gubernur Maluku Utara   KH Abdul Gani Kasuba dan dimoderatori oleh Rektor Unkhair Dr Ridha Adjam itu, wakil ketua KPK berharap  dengan hasil riset yang dilakukan selanjutnya kampus memberikan masukan ke pemerintah agar ditegur dan diberikan sanksi kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran atau aktivitas pertambangan  yang merusak. Dia bilang  jika mengandalkan pemerintah daerah yang melakukan pengawasan akan tetap sama.

Secara nasional saja  menurut Aleksander  sampai saat ini kasus kejahatan lingkungan belum banyak  dibawa ke meja hijau atau pengadilan  dan diproses hukum.   “Hal ini katanya diakui sendiri oleh Kementerian ESDM yang memiliki  tugas pokok tersebut,” cecarnya.

Kawasan tambang di Halmahera Tengah

Wakil Ketua KPK dalam kuliah umum itu mengungkap terjadinya mafia tambang terutama dalam hal eksport bahan mentah yang dimainkan   namun sulit sekali terpantau. Dicontohkan, tenggelamnya sebuah kapal pengangkut ore nikel yang hingga kini belum ditemukan di sekitar laut  Halmahera Selatan beberapa waktu lalu adalah contoh pengangkutan bahan mentah mineral yang berasal dari Maluku Utara yang perlu dipantau. Dia menyebutkan ada banayak perusahaan yang tidak membangun smelter dan membawa material mineral mentah itu ke China. Atau pun jika ada yang mau bekerjasama dengan perusahaan yang membangun smelter tetapi akhirnya membawa material mineral itu ke luar negeri. Mereka memaksakan untuk mendapatkan izin eksport.  Nah hal- hal ini yang mestinya dikawal bersama.   

Usai mengisi kuliah umum Aleksander Marwata menegaskan kewjiban mengawal perusahaan tambang ini semata mata bukan hanya kampus tetapi juga seluruh elemen masuyarakat.   Dia bilang lagi  yang gencar dlakukan  saat ini  dengan banyak turun ke daerah daerah yang memiliki  banyak cadangan tambang dan   industry tambang seperti Maluku Utara itu adalah bagian dari upaya mencegah korupsi sumberdaya alam. “Kewajiban untuk menjaga dan mencegah terjadinya korupsi di bidang tambang itu tidak semata mata kampus tetapi juga elemen lainnya di daerah ini,” tambahnya.

Pekan lalu saat datang ke Maluku Utara  KPK melakukan koordinasi  dengan ESDM dan berbagai unsur seperti pajak, bea cukai dan  Dinas Pendapatan Daerah menyangkut penambangan karena, masalah ini menjadi focus KPK dalam urusan pemberantasan korupsi  yang dikenal dengan Gerakan Nasional Penyelamatan Sumberdaya  Alam (GPNSDA).

“Fokusnya ke Maluku Utara karena  memiliki banyak pertambangan nikel. Ini menjadi perhatian KPK. Misalnya   pembangunan smelter di Halmahera Timur oleh PT Antam yang belum selesai selesai hingga saat ini,”katanya. Apakah ada kaitannya dengan ekspor mineral

Dia bilang lagi, tidak hanya kampus tetapi semua masyarakat diajak ikut mengawal adanya aktivitas tambang di daerah ini. Hal ini jika tidak diperhatikan maka ke depan  masalah lingkungan semakin parah. Masalah lingkungan ini harus mendapat perhatian seris   karena ini juga menjadi perhatian internasional terutama isu perubahan iklim. Karena jika lingkungan rusak dan suhu bumi naik sampai 2 derajat yang akan mengancam generasi yang akan datang. Apalagi soal kondisi lingkunagn dan perubahan iklim menjadi perhatian PBB. Krena itu isu lingkungan itu harus menjdi perhatian semua pihak. Terutama dalam proses kegiatan yakni perencanan dan pelaksanaannya.   

Permintaan KPK soal peran kampus yang lebih besar dalam menjaga dan melindungi lingkungan di Maluku Utara terutama soal tambang mendapat kritik dari beberapa elemen yang selama ini  concern menyuarakan persoalan  lingkungan,  ketimpangan ruang  dan masyarakat adat. Direktur Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Malut  Munadi Kilkoda  mengaku sejujurnya  belum melihat ada peran kampus yang signifikan terutama suara kampus ketika melihat problem tambang. Baik dari aspek lingkungan hidup    ketimpangan ruang serta konflik warga dengan korporasi. “Peran kampus lebih pada penyiapan dokumen AMDAL yang kita tahu ternyata selama ini banyak yang dilanggar tidak dilaksanakan dengan baik. Peran lain yang kita lihat kerjasama dengan perusahaan tambang,” katanya. Problem rill yang dihadapi masyarakat terdampak justru tidak dibicarakan. “Saya ambil contoh, apakah pernah ada riset kampus terhadap krisis Lingkungan Hidup atau kemiskinan yang dihadapi masyarakat terdampak. Saya tidak pernah mendapat itu,”cecarnya. Kampus juga katanya diharapkan fokus bicara korupsi di sektor sumbedaya alam.  “Kita ini kaya, tapi kekayaan dari SDA itu tidak dinikmati sepenuhnya oleh rakyat. Itu terjadi karena memang praktek korupsi di sektor ini sangat tinggi, turutama proses perizinan. Ada izin tambang yang dikeluarkan gubernur di atas hutan lindung. “Praktek semacam ini cukup banyak di Maluku Utara. Sayangnya kita tidak fokus kesana, termasuk kampus,” tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mata Air Ake Gaale Berubah Menjadi Air Mata Warga

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 2.597
    • 0Komentar

    Untuk  menemukan  sumber mata air  yang mengalir di pulau kecil seperti Ternate, terutama  di tengah pemukiman warga yang padat ,  hanya ada di dua tempat. Dua sumber mata air itu  adalah,  Ake Santosa, di Kelurahan Salero atau tepatnya berada sebuah bukit kecil di samping Kedaton Kesultanan Ternate.  Sementara yang satunya lagi ada di Bagian Utara […]

  • Titik Nol Jalur Rempah adalah Soal Geopolitik (3)

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 762
    • 1Komentar

    Untuk menentukan Titik Nol Rempah, bukan lagi sekedar soal romantisme sejarah masa lalu, namun ia adalah soal identitas, nasionalisme, dan soal geopolitik global, untuk menentukan pada titik manakah Indonesia harus memainkan peranannya dalam percaturan global dewasa ini. Jika menoleh apa yang dilakukan China sepeninggalnya Mao Tze Tung, Deng Xiao Ping telah berani mengangkat identitas masa […]

  • 75 Tahun Warga Gane Belum “Merdeka”

    • calendar_month Kam, 2 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 695
    • 1Komentar

    Jalan perusahaan di perkebunan sawit PT Korindo ini dimanfaatklan warga Gane Dalam dan Gane Luar untuk akses antar dua desa tersebut. foto M Ichi

  • Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

    • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 5.703
    • 1Komentar

    Hutan dan Bumi Dikuras, Jalan Keliling Pulau pun Tak Punya  Perjalanan menuju Obi awal Mei 2025 lalu lumayan melelahkan. Setelah semalam atau kurang lebih 7 jam   perjalanan dengan kapal laut dari Ternate, sekira pukul 06.30 WIT, kapal  lego sauh di pelabuhan Kupal Pulau Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara.  Etape pertama perjalanan telah dilewati, sekaligus menandai  […]

  • Kaya Tambang, Malut Primadona Investasi Asing

    • calendar_month Kam, 4 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 919
    • 1Komentar

    Bumi Maluku Utara benar- benar menjadi buruan investor asing menanamkan modalnya. Provinsi ini memiliki kekayaan  di darat  terutama bahan mineral serta  hasil hutannya. Sementara  di laut daerah ini punya potensi perikanan dan kelautanya yang benar benar membuat mata para investor tetuju ke  daerah ini. Tak hanya kaya bahan mineral dan hasil hutan,  negeri dengan 805 […]

  • Bawa Program Konservasi Air Tanah dan Energi, BesaMacahaya Hadir di City Sanitation Summit 

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 826
    • 1Komentar

    City Sanitation Summit  (CSS) merupakan agenda nasional tahunan yang diselenggarakan Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI). Tahun ini merupakan yang ke-23, sementara  penyelenggaraannya dilakukan oleh Pemerintah Kota Ternate. CSS XXIII  bertema Sanitasi berkelanjutan melalui partisipasi dan inovasi pengelolaan sampah berbasis kota pulau itu turut digelar beberapa kegiatan. Salah satunya rangkaian kegiatan   Festival Sanitasi, Budaya dan UMKM yang berlangsung di Benteng Oranje 29-hingga […]

expand_less