Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
  • visibility 1.992

Hutan dan Bumi Dikuras, Jalan Keliling Pulau pun Tak Punya 

Perjalanan menuju Obi awal Mei 2025 lalu lumayan melelahkan. Setelah semalam atau kurang lebih 7 jam   perjalanan dengan kapal laut dari Ternate, sekira pukul 06.30 WIT, kapal  lego sauh di pelabuhan Kupal Pulau Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara.  Etape pertama perjalanan telah dilewati, sekaligus menandai  dimulainya perjalanan  menuju Pulau- pulau Obi.

Di sini hamper 3 jam kapal  bersandar, menurunkan penumpang beserta barang bawaan. Sementara yang lain masih harus meneruskan perjalanan menuju Obi tiga jam  berikutnya  atau sekira pukul 9.30 WIT. Saat di Pelabuhan Kupal  jika memandang ke selatan, dari kejauhan terlihat gugusan pulau Obi. Paling depan  ada Pulau Bisa yang dipisahkan selat Obi. Di sini pintu pertama  masuk  Obi, tepatnya di Jojame.

Untuk sampai di ini menempuh waktu perjalanan hamper 3,5 jam. Artinya perjalanan mulai memasuki jazirah Kepulauan Obi. Selanjutnya menyinggahi beberapa pelabuhan berikutnya, yakni  Jikotamo  dan Pelabuhan Kawasi yang merupakan pusat industry nikel  dimiliki PT Harita dan groupnya.

Di Pelabuhan Kawasi  penumpang yang mau melanjutkan perjalanan ke kampung- kampung di bagian selatan Obi, harus bermalam  di atas kapal. Hal ini karena kapal tidak akan melanjutkan perjalanan ke kampung kampung lainnya malam itu. Sementara kapal yang bermalam di pelabuhan Kawasi,  paginya balik lagi ke Laiwui  dan esok harinya menuju ke Ternate.

Untuk penumpang yang melanjutkan perjalanan  ke Obi Selatan dan Pulau Gamumu menunggu esok paginya ada perahu bermotor yang oleh warga lokal menyebutnya ojek laut mengantar  menuju kampung-kampung pesisir seperti Soligi, Wayaloar, Oci, Fluk, Woi, Bobo hingga kampung- kampung di bagian timur Obi. Ini jika pilihan menumpang kapal yang hanya memiliki trayek terakhir sampai ke Kawasi.  Ada juga pilihan kapal lain yang langsung ke kampung- kampung di selatan hingga ke Timur pulau Obi yang tentu butuh waktu yang lumayan lama. Tidak itu saja trayeknya  ada di waktu- waktu tertentu. Memang ada banyak pilihan transportasi. Bahkan dari Manado- Obi – Ambon. Sementara  dari Bacan misalnya, bisa menyewa speed boat langsung ke kawasan Obi  tetapi biayanya perlu  merogoh kocek lebih dalam. Ambil contoh dari Bacan ke Ke Kawasi atau sebaliknya yang butuh waktu perjalanan empat jam anda harus merogoh kocek Rp350 ribu. Belum melanjutkan perjalanan ke desa desa  lebih ke selatan.

Perjalanan dari Ternate sampai ke Obi   membutukan waktu   hamper dua hari dua malam, akhirnya sampai Wayaloar ibu kota kecamatan Obi Selatan menggunakan ojek laut hamper 2 jam dari Kawasi. Akses itu begitu melelahkan  karena  di Pulau Obi tidak memiliki  jalan keliling pulau yang bisa menghubungkan antar desa. Jalan hanya ada ada di pusat ibu kota Kecamatan Obi induk di Laiwui   yang menghubungkan beberapa desa di bagian utara.

Di Obi  juga ternyata  dikelilingi  cukup banyak pulau kecil. Pulau- pulau itu adalah, Pulau Bisa, Pulau Malamala, Pulau Obilatu, Pulau Gomumu, Pulau Pasir Raja, Pulau Tapat, Pulau Belang- belang, Pulau Tobalai, Pulau Latu, Pulau Woka, dan Pulau Tomini.  Obi adalah pulau terbesar di gugusan kepulauan di selatan Halmahera itu. Dari pulau yang ada, dua  diantaranya diekspolitasi  massive untuk tambang nikel.Perjalanan dari Jikotamo ke Kawasi  kapal melewati pulau  Mala-mala yang dieksploitasi habis  nikel dikandungnya.

Nyiur Melambai. Selain hutan dan tambang, kekayaan-yang-dikelola-turun-temurun warga adalah kebun kelapa pala dan-cengkih foto M-Ichi

Sementara  jika menyaksikan Obi dari dekat baik pulau besar maupun pulau-pulau kecil di sekitarnya, memiliki kekayaan tidak terpemanai.  Ada di atas permukaan bumi, di dalam bumi hingga ke dasar lautnya.

Obi memiliki kekayaan hutan dengan kayu hingga tambang nikel di seantero  pulau besar dan pulau kecil sekitarnya.

Bukti kekayaan tambang dan hutan itu bisa dilihat dengan begitu banyaknya industri pengolahan mengeksploitasi tambang dan kayu daerah ini.

Di sana ada smelter  memproduksi bahan baku baterei. Kawasan industri yang dibangun PT Trimegah Bangun Persada (TPB) atau Harita Nickel didesain sebagai kawasan industri menempati lahan seluas 15.000 hektar itu jika dilihat di malam hari seperti Hongkong karena lampu pabriknya yang berkilauan.

Di Pulau ini selain Harita beroperasi PT Gane Permai Sentosa, PT Halmahera Jaya Feronikel dan PT Megah Surya Pertiwi (MSP) dan PT Halmahera Persada Lygend. Ada juga PT Intim Mining Sentosa (IMS). Belum lagi  ada izin perusahaan tambang emas seperti PT Amazing Tabara.   Itu  perusahaan yang  dilihat  datanya secara online.  Lalu ada lagi perusahaan yang mengeksploitasi hutan berupa kayu dan non kayu.

Khsusus untuk kayu Obi adalah surganya perusahaan pengeksploitasi kayu. Perusahaan mengambil hasil hutan di pulau ini sudah sejak lama. Terbilang  sejak tahun 70 an hingga saat ini masih berlangsung.

Sebuah perusahaan  ternama beroperasi di sini yakni PT Poleko Yubarson maupun group PT Barito pernah beroperasi di sini. Saat ini juga masih ada PT Telaga Bakti mengambil kayu di Obi.

Bukti eksploitasi yang massive sebelum datangnya industry keruk bumi mineral kritis  adalah eksploitasi hutan.  Di hampir seluruh pulau Obi, ditemukan 17 log pond atau tempat penampungan loging setelah penebangan. Hal ini bisa dilihat di tepian pantai beberapa desa di Pulau Obi. Tidak jauh dari Desa Soligi misalnya,  masih ada log pond milik PT Telaga  Bakti.

Pulau Obi dieksploitasi selain karena kaya kayu jenis rimba campuran, juga tidak kalah pentingnya memiliki kayu jenis agathis  berkualitas tinggi  banyak tumbuh  di hutan Obi. Tidak heran hingga kini masih ada perusahaan yang beroperasi. Bahkan konsesi usaha di bidang kehutanan itu  ada sampai sekarang.   Uang yang member sumbangsih bagi Negara dan bangsa dari pulau ini sudah tidak terhitung banyaknya. Sayangnya ada anomaly yang bisa dibaca di tingkat bawah. Kekayaan itu   tidak memihak kepada rakyat bawah.

Di atas kekayaan alam yang melimpah ruah ternyata ada kenyataan yang menyesakan dada.  Eksploitasi yang begitu massive tidak memberi dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat secara umum. Lihat saja pembangunan infrastruktur di daerah ini. Masih jauh dari layak. Jalan dan jembatan, listrik dan kebutuhan telekomunikasi belum bisa diperoleh secara layak.

Hingga kini belum ada  jalan keliling pulau Obi. Padahal jalan keliling pulau ini sangat penting keberadanya dalam membuka akses antar desa,  ekonomi masyarakat maupun menyelesaikan masalah kebutuhan dasar warga.

Sesuai data  pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, total ruas jalan kabupaten di pulau Obi 245,7 kilometer dari total panjang jalan Halmahera Selatan mencapai 958,8  kilometer. Dari panjang jalan itu belum bisa dinikmati masyarakat secara keseluruhan.

Jalan darat dari Desa Jiko Dolong, Soligi ke Wayaloar yang panjangnya kurang lebih 61,4 kilometer sampai saat ini  belum  terbuka.  Kondisi yang sama untuk ruas jalan dari Obi Selatan hingga timur  belum juga dibangun.

Selain itu, ada ruas jalan provinsi Laiwui –Jikotamo hingga Anggai, kondisinya juga memprihatinkan. Hingga kini  alami kerusakan parah. Ruas jalan ini menghubungkan 8 desa yakni Desa Baru, Ake Gula, Lawui, Buton, Jiko Tamo,  Sambiki, Anggai dan Air Mangga.

Kawasi dilihat dari laut. Desa ini menjadi pusat industri nikel yang sedang dikeruk oleh PT Harita foto M Ichi

Begitu juga dengan ketersediaan infrastruktur lain seperti penerangan listrik yang menjadi  kebutuhan utama hidup warga juga  sama kondisinya.  Di Wayaloar sebagai ibukota kecamatan Obi Selatan,  baru bisa menikmati  penerangan listrik dari PLN kurang lebih satu tahun ini. Meski begitu   hanya bisa  selama  12 jam yakni dari pukul 18.00 sore hingga pukul 06.00 pagi. Selebihnya di siang hari warga di ibukota kecamatan  tertua di pulau Obi ini tidak bisa menikmatinya.

Kebutuhan sarana komunikasi juga sama. Waktu sampai  di Wayaloar    tidak ada jaringan telpon. Tower mini juga rusak. Sebelumnya  di kampung ini ada tower mini  untuk akses telepon. Hanya saja sudah beberapa tahun belakangan, mengalami kerusakan dan sudah tidak ada perbaikan.

Saat ini warga terbantu dengan adanya fasilitas  layanan internet satelit yang dikembangkan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, (starlink,red),  yang dibeli  warga dan  disewakan kepada yang  butuh  mengakses internet atau  berkomunikasi via media social.  Kondisi infrastruktur yang begitu memprihatinkan, membuat warga  harus berjuang sendiri mememenuhi kebutuhannya. Dengan segala keterbatasan yang ada mereka tetap berjuang memenuhi kebutuhan, menyekolahkan anak dari hasil perkebunan dan pertanian yang mereka kelola.  (bersambung)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahan dan Para Pembuat Tikar Pandan yang Makin Langka

    • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 852
    • 0Komentar

    Elisa nusa menggulung daun buro buro yang nanti dibuat kokoya

  • Sagu, Pangan Lokal dan Identitas Warga Sagea (2)

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 942
    • 0Komentar

    Terjualnya kebun sagu ikut memunculkan kekuatiran luar biasa terkait nasib pangan warga Sagea Weda Utara Halmahera Tengah Maluku Utara  di masa depan. Saat ini pangan lokal seperti pisang, singkong dan keladi saja hamper semua didatangkan dari luar daerah. Karena itu jika lahan sagu yang sudah terjual digusur perusahaan, pupuslah harapan warga setempat bisa mendapatkan sagu […]

  • Bencana Perubahan Iklim Terus Meningkat    

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 560
    • 0Komentar

    Sepanjang 2023 -2024 Ada 5000 Lebih Kejadian Ada kurang lebih 5000 kejadian  bencana   tercatat disebabkan oleh  perubahan iklim dalam satu tahun ini.  Bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan cuaca dan iklim (hidrometereologis) terus meningkat tajam. Sementara isu perubahan iklim saat ini menghadapi tantangan serius   baik dari masyarakat dan pemerintah dalam negeri, maupun dari masyarakat global. […]

  • HAM untuk Nelayan Kecil dan Awak Kapal Perikanan Lemah

    • calendar_month Kam, 3 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Upaya pemerintah dalam pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada nelayan kecil dan awak kapal perikanan sebagaimana diamanahkan di dalam UndangUndang No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam  terbilang lemah. Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan dalam rilisnya  Selasa (1/8/2023), menegaskan,  Pemenuhan HAM  kepada nelayan kecil dan awak kapal perikanan […]

  • Soal Sungai Sagea, Ini Hasil dari Tim Udara dan Darat

    • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 470
    • 1Komentar

    Ahli Geologi Sarankan Tunggu Uji Lab Kimia Air Komunitas Save Sagea yang mengawal bencana tercemarnya sungai Sagea menjelaskan bahwa  setelah tim investigas lakukan tugasnya,  di mana tim yang merupakan gabungan masyarakat pemerintah  yang turun lapangan belum punya kesimpulan apa pun. Baik yang lakukan pemantauan melalui udara dengan  heli maupun melalui perjalanan darat. Adlun Fikri Juru […]

  • Warga Suarakan Rusaknya Jalan Obi

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 410
    • 1Komentar

    Jalan-Anggai-Aer-Aer-Mangga-seperti-sungai-saat-musim-hujan-foto-M-Ichi.jpeg

expand_less