Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Dulu Tebang, Sekarang Tanam

Dulu Tebang, Sekarang Tanam

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
  • visibility 332

Cerita Warga Desa Kao Mulai Rehabilitasi Mangrove 

Selasa (28/8) sore sekira pukul pukul 16.00 WIT, dua orang ibu, Iswati Mabang (45 tahun) dan Suparni Sulan (44 tahun) menyulam kebun bibit rakyaat yang berisi  anakan mangrove yang mati. Kebun bibit mangrove ini dibangun  kelompok Green  Kai Dati desa Kao Kecamatan Kao Halmahera Utara. Dua perempuan dari 15 anggota  kelompok  ini, sehari-hari merawat  bibit  yang nanti ditanam di kawasan hutan mangrove desa Kao.

Langkah ini dilakukan karena hutan mangrove  desa ini, telah ditetapkan menjadi  Kawasan Ekosistem  Esensil (KEE) oleh Pemerintah Kabupaaten Halmahera Utara. Luas KEE ini adalah 400 hektar dengan berbagai keanekaragaman hayati  di dalamnya.  

Menarik dari cerita ini, ternyata ibu-ibu ini dulu menjadi penebang mangrove atau soki dalam bahasa local Maluku Utara, untuk kebutuhan kayu bakar. Seiring waktu karena mulai tahu dan sadar akan pentingnya peran mangrove,  kini mereka ambil peran bertanam mangrove.

Mereka harus menanam kembali, karena mangrove makin terdesak  dan  rusak akibat ulah manusia. Warga kembali sadar  ternyata mangrove yang melingkupi desa ini memberi kehidupan yang nyata  sehingga perlu dijaga dan dirawat. ”Torang so mulai paham kalau ikang abis udang  ilang itu karena pengaruh soki  yang  abis,” kata Suparni salah satu dari mereka  ditemui di kebun bibit tersebut .

Dia bilang mereka harus melakukan kerja ini untuk mengembalikan hutan mangrove yang selama ini banyak ditebang  maupun rusak akibat ulah manusia. Kelompok ini telah menyemai  20 ribu pohon mangrove.     

Dari hasil identifikasi jenis bibit mangrove yang mereka semai ada 5 jenis. Berdasarkan nama nama local seperti hutu lage, pena, ting, dao dan fika. Ragam mangrove ini ditemukan   di kawasan hutan mangrove Kao.

Gerakan ini dilakukan sudah memasuki tiga bulan   sejak ditetapkan kawasan hutan mangrove desa ini sebagai KEE.    

Mereka bilang kesadaran ini muncul setelah   menyaksikan  hamper 20 tahun terakhir   kondisi ikan, dan udang telah menipis. “Kita mulai sadar karena melihat kenyataan hari ini yang sudah berbeda dengan 15 sampe 20 tahun lalu,”katanya lagi.

Hutan mangrove yang ada di kawasan pantai Hate Jawa Kao Halmahera Utara

Desa Kao yang berada di kawasan Teluk Kao Halmahera Utara  dulu  memiliki hasil ikan dan udang melimpah. Sekarang udang juga  sulit didapat. Begitu juga  ikan teri  semakin  berkurang.  “Dari berbagai informasi yang kami peroleh, kondisi ini juga karena dampak dari semakin menipis dan berkurangnya hutan mangrove  di desa kami. Maka, mutlak mangrove harus dkembalikan,” ujar Lukman Langga ketua kelompok kebun bibit rakyat yang  membawahi  15  anggota. Selain  kelompok, saat ini warga juga membuat pembibitan mangrove secara mandiri.  

Hasil  dari hutan mengrove  yang melimpah sebelum terganggu,  juga diakui  Iswati. Dia mengungkapkan, udang laut di Kao   dulu melimpah. Sekarang sudah susah didapat.

“Dulu  tinggal falo (ambil, red) sekarang pake soma (pukat, red) juga sudah susah. Dulu orang pakai jala saja dapat udang banyak. Sekarang ini menggunakan berbagai macam jaring tetapi hasilnya sedikit. Torang berharap dengan mengembalikan mangrove  bisa mengembalikan kondisi ikan dan udang yang dulu begitu melimpah,” harapnya.

Selain udang dan ikan,  dari hutan mangrove, juga ibu- ibu menikmati hasil yang melimpah dari jenis kerang-kerangan. Ada banyak jenis bia (kerang,red) yang ada di hutan mangrove Kao ini.  Ada kurang lebih 5 jenis kerang. Ada juga beberapa jenis kepiting. Berbagai  jenis kerang ini memiliki nilai protein bagi warga bahkan bernilai ekonomis.  “Kami ambil kerang jenis popaco itu kalau ada pesanan.  Biasanya orang beli untuk  dibuat sate kerang. Itu kalau ada yang pesan,” ujar  Iswati.

Sementara soal kayu bakar. Dulu memang rajin menebang mangrove. Kini  tidak lagi  dan menggunakan alternative  dengan mengambil kayu dari hutan. Dulu katanya  lebih berpikir praktis karena mengambil kayu soki atau mangrove  lebih mudah dan dekat. Begitu juga nyalanya  sangat bagus.   

Setelah mengetahui  larangan menebang dan mengambil di kawasan hutan mangrove, akhirnya  beralih ke bahan bakar kayu jenis lain. Meski berjalan jauh ke hutan  mengambil kayu bakar tetapi harus dilakukan karena  tidak bisa lagi mengambil  mangrove untuk  kayu bakar. Tidak itu saja, saat ini sebagian besar warga Kao  telah menggunakan kompor minyak tanah untuk  memasak.

Lobang bekas galian warga mencari telut mamua

Soal potensi  di hutan mangrove  tidak hanya kayu   ikan, udang jenis kerang dan kepiting. Kawasan ini juga menyimpan berbagai jenis satwa burung dan tempat bertelurnya penyu. Data Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) di sini ada 23 jenis burung. Ada juga jenis mandar gendang dan gosong Maluku (maleo,red).

Di kawasan pantai Hate Jawa Desa Kao ini menjadi pusat bertelurnya Gosong maluku atau maleo serta penyu. Sayang hingga kini upaya perlindungan jenis ini dari eksploitasi telurnya belum  usai. Meskipun sesuai Perdes sudah mengatur  larangan pengambilan telur tetapi eksploitasi masih berjalan.

Hasil penelusuran kabarpulau.co.id/ ke lapangan menemukan pengambilan telur masih massive. Ditemukan di lapangan  ada 26 lobang galian, yang dibuat warga untuk mencari telur maleo/mamua.

Soal  adanya eksploitasi  oleh warga diakui Sekretaris Desa Kao Rahmat Salampe.     Dia bilang Perdes 03/2017 tentang lingkungan hidup yang dihasilkan  Desa Kao, sebenarnya mulai berjalan. Warga desa Kao juga perlahan mulai sadar dengan kondisi di desa ini. Persoalannya  ada warga di luar desa Kao sering masuk ke  kawasan hutan  mangrove mengambil kayu dan berbagai potensi di dalam. Mereka menggantungkan kebutuhan mereka di hutan mangrove ini. “Untuk masyarakat Kao, hadirnya Perdes dan Penetapan KEE ini memiliki dampak penting. Kesadaran mereka perlahan mulai tumbuh.  Yang kami hadapi sekarang adalah adanya intervensi dari desa tetangga yang kadang bisa memicu konflik jika ada tindakan,” ujarnya.

Dia mengaku, memang masih ada warga yang berburu dan masuk kawasan KEE ini,  tetapi ada usaha perlahan lahan memberikan penyadaran sehingga mereka bisa paham pentingnya tidak merusak mangrove dan keanekaragaman hayatinya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemanfaatan Potensi Laut Maluku Utara Masih Minim

    • calendar_month Sel, 8 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 713
    • 0Komentar

    Setiap 8 Juni diperingati sebagai hari laut sedunia atau World Ocean Day. Peringatan ini untuk mengingatkan pentingnya lautan bagi kehidupan manusia karena   menutupi lebih dari 70% planet Bumi. Dikutip dari https://tirto.id/hari-laut-sedunia-2021-tema-8-juni-cara-rayakan-world-ocean-day-gg) menyebutkan bahwa   laut menjadi sumber kehidupan manusia, mendukung kesejahteraan umat manusia dan setiap organisme lain di bumi. Lautan menghasilkan setidaknya 50% oksigen Bumi, merupakan […]

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 668
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Perampasan Ruang Laut Marak, BRIN Ajak Kolaborasi Keilmuan

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 554
    • 1Komentar

    Beberapa dekade terakhir, pesisir dan laut menjadi arena perebutan kepentingan yang tidak seimbang antara pemegang kuasa ekonomi-politik dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut. Fenomena ini dikenal sebagai coastal and marine grabbing – praktik perampasan ruang laut. Berapa besar dampak bagi komunitas tempatan dan ekosistem pesisir dan laut saat ini? Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan […]

  • Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Ikrar Belém 4x akan Sia-Sia bila Hutan dan Masyarakat Adat terus Dieksploitasi Bersama lebih dari 1.900 organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Climate Action Network (CAN), Greenpeace menolak “Belém 4x Pledge,” inisiatif guna melipatgandakan produksi bahan bakar berkelanjutan (biofuel) hingga empat kali lipat dalam satu dekade mendatang. Kepala Kampanye Solusi untuk Hutan Global Greenpeace, Syahrul […]

  • 75 Tahun Warga Gane Belum “Merdeka”

    • calendar_month Kam, 2 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 287
    • 1Komentar

    Jalan perusahaan di perkebunan sawit PT Korindo ini dimanfaatklan warga Gane Dalam dan Gane Luar untuk akses antar dua desa tersebut. foto M Ichi

  • Jurnalisme Lingkungan, Jalan Pulang Melihat Isu  Publik

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 252
    • 0Komentar

    AMSI-BBC Media Action Program Kerjasama   Isu lingkungan  mestinya menjadi jalan pulang para jurnalis untuk melihat apa yang lebih dibutuhkan publik saat ini. Bukan sekadar traffic dan pageview atau  pengunjung. Pasalnya, dalam tren jurnalisme viral, banyak informasi penting yang terlewatkan untuk dikonsumsi publik. Pesan ini disampaikan oleh  Wenseslaus Manggut Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia […]

expand_less