Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Dulu Tebang, Sekarang Tanam

Dulu Tebang, Sekarang Tanam

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
  • visibility 744

Cerita Warga Desa Kao Mulai Rehabilitasi Mangrove 

Selasa (28/8) sore sekira pukul pukul 16.00 WIT, dua orang ibu, Iswati Mabang (45 tahun) dan Suparni Sulan (44 tahun) menyulam kebun bibit rakyaat yang berisi  anakan mangrove yang mati. Kebun bibit mangrove ini dibangun  kelompok Green  Kai Dati desa Kao Kecamatan Kao Halmahera Utara. Dua perempuan dari 15 anggota  kelompok  ini, sehari-hari merawat  bibit  yang nanti ditanam di kawasan hutan mangrove desa Kao.

Langkah ini dilakukan karena hutan mangrove  desa ini, telah ditetapkan menjadi  Kawasan Ekosistem  Esensil (KEE) oleh Pemerintah Kabupaaten Halmahera Utara. Luas KEE ini adalah 400 hektar dengan berbagai keanekaragaman hayati  di dalamnya.  

Menarik dari cerita ini, ternyata ibu-ibu ini dulu menjadi penebang mangrove atau soki dalam bahasa local Maluku Utara, untuk kebutuhan kayu bakar. Seiring waktu karena mulai tahu dan sadar akan pentingnya peran mangrove,  kini mereka ambil peran bertanam mangrove.

Mereka harus menanam kembali, karena mangrove makin terdesak  dan  rusak akibat ulah manusia. Warga kembali sadar  ternyata mangrove yang melingkupi desa ini memberi kehidupan yang nyata  sehingga perlu dijaga dan dirawat. ”Torang so mulai paham kalau ikang abis udang  ilang itu karena pengaruh soki  yang  abis,” kata Suparni salah satu dari mereka  ditemui di kebun bibit tersebut .

Dia bilang mereka harus melakukan kerja ini untuk mengembalikan hutan mangrove yang selama ini banyak ditebang  maupun rusak akibat ulah manusia. Kelompok ini telah menyemai  20 ribu pohon mangrove.     

Dari hasil identifikasi jenis bibit mangrove yang mereka semai ada 5 jenis. Berdasarkan nama nama local seperti hutu lage, pena, ting, dao dan fika. Ragam mangrove ini ditemukan   di kawasan hutan mangrove Kao.

Gerakan ini dilakukan sudah memasuki tiga bulan   sejak ditetapkan kawasan hutan mangrove desa ini sebagai KEE.    

Mereka bilang kesadaran ini muncul setelah   menyaksikan  hamper 20 tahun terakhir   kondisi ikan, dan udang telah menipis. “Kita mulai sadar karena melihat kenyataan hari ini yang sudah berbeda dengan 15 sampe 20 tahun lalu,”katanya lagi.

Hutan mangrove yang ada di kawasan pantai Hate Jawa Kao Halmahera Utara

Desa Kao yang berada di kawasan Teluk Kao Halmahera Utara  dulu  memiliki hasil ikan dan udang melimpah. Sekarang udang juga  sulit didapat. Begitu juga  ikan teri  semakin  berkurang.  “Dari berbagai informasi yang kami peroleh, kondisi ini juga karena dampak dari semakin menipis dan berkurangnya hutan mangrove  di desa kami. Maka, mutlak mangrove harus dkembalikan,” ujar Lukman Langga ketua kelompok kebun bibit rakyat yang  membawahi  15  anggota. Selain  kelompok, saat ini warga juga membuat pembibitan mangrove secara mandiri.  

Hasil  dari hutan mengrove  yang melimpah sebelum terganggu,  juga diakui  Iswati. Dia mengungkapkan, udang laut di Kao   dulu melimpah. Sekarang sudah susah didapat.

“Dulu  tinggal falo (ambil, red) sekarang pake soma (pukat, red) juga sudah susah. Dulu orang pakai jala saja dapat udang banyak. Sekarang ini menggunakan berbagai macam jaring tetapi hasilnya sedikit. Torang berharap dengan mengembalikan mangrove  bisa mengembalikan kondisi ikan dan udang yang dulu begitu melimpah,” harapnya.

Selain udang dan ikan,  dari hutan mangrove, juga ibu- ibu menikmati hasil yang melimpah dari jenis kerang-kerangan. Ada banyak jenis bia (kerang,red) yang ada di hutan mangrove Kao ini.  Ada kurang lebih 5 jenis kerang. Ada juga beberapa jenis kepiting. Berbagai  jenis kerang ini memiliki nilai protein bagi warga bahkan bernilai ekonomis.  “Kami ambil kerang jenis popaco itu kalau ada pesanan.  Biasanya orang beli untuk  dibuat sate kerang. Itu kalau ada yang pesan,” ujar  Iswati.

Sementara soal kayu bakar. Dulu memang rajin menebang mangrove. Kini  tidak lagi  dan menggunakan alternative  dengan mengambil kayu dari hutan. Dulu katanya  lebih berpikir praktis karena mengambil kayu soki atau mangrove  lebih mudah dan dekat. Begitu juga nyalanya  sangat bagus.   

Setelah mengetahui  larangan menebang dan mengambil di kawasan hutan mangrove, akhirnya  beralih ke bahan bakar kayu jenis lain. Meski berjalan jauh ke hutan  mengambil kayu bakar tetapi harus dilakukan karena  tidak bisa lagi mengambil  mangrove untuk  kayu bakar. Tidak itu saja, saat ini sebagian besar warga Kao  telah menggunakan kompor minyak tanah untuk  memasak.

Lobang bekas galian warga mencari telut mamua

Soal potensi  di hutan mangrove  tidak hanya kayu   ikan, udang jenis kerang dan kepiting. Kawasan ini juga menyimpan berbagai jenis satwa burung dan tempat bertelurnya penyu. Data Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) di sini ada 23 jenis burung. Ada juga jenis mandar gendang dan gosong Maluku (maleo,red).

Di kawasan pantai Hate Jawa Desa Kao ini menjadi pusat bertelurnya Gosong maluku atau maleo serta penyu. Sayang hingga kini upaya perlindungan jenis ini dari eksploitasi telurnya belum  usai. Meskipun sesuai Perdes sudah mengatur  larangan pengambilan telur tetapi eksploitasi masih berjalan.

Hasil penelusuran kabarpulau.co.id/ ke lapangan menemukan pengambilan telur masih massive. Ditemukan di lapangan  ada 26 lobang galian, yang dibuat warga untuk mencari telur maleo/mamua.

Soal  adanya eksploitasi  oleh warga diakui Sekretaris Desa Kao Rahmat Salampe.     Dia bilang Perdes 03/2017 tentang lingkungan hidup yang dihasilkan  Desa Kao, sebenarnya mulai berjalan. Warga desa Kao juga perlahan mulai sadar dengan kondisi di desa ini. Persoalannya  ada warga di luar desa Kao sering masuk ke  kawasan hutan  mangrove mengambil kayu dan berbagai potensi di dalam. Mereka menggantungkan kebutuhan mereka di hutan mangrove ini. “Untuk masyarakat Kao, hadirnya Perdes dan Penetapan KEE ini memiliki dampak penting. Kesadaran mereka perlahan mulai tumbuh.  Yang kami hadapi sekarang adalah adanya intervensi dari desa tetangga yang kadang bisa memicu konflik jika ada tindakan,” ujarnya.

Dia mengaku, memang masih ada warga yang berburu dan masuk kawasan KEE ini,  tetapi ada usaha perlahan lahan memberikan penyadaran sehingga mereka bisa paham pentingnya tidak merusak mangrove dan keanekaragaman hayatinya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Ternate akan Bangun Pusat Studi dan Riset Rempah

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 809
    • 1Komentar

    Bentang Artefak sejarah tentang kejayaan rempah di masanya/ foto istimewa

  • KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 2.148
    • 0Komentar

    Kawasan konservasi Kepulauan Sula di Kabupaten Kepulauan Sula  di Provinsi Maluku Utara mencakup enam kecamatan, yaitu Kecamatan Sanana, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kecamatan Sulabesi Timur, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kecamatan Mangoli Timur, dan Kecamatan Mangoli Tengah. Terdapat 35 desa di enam kecamatan  masuk di dalam wilayah konservasi  Kepulauan Sula. KKP Sula yang masuk dalam Taman Pesisir […]

  • Halmahera Kaya Jenis Anggrek,  Belum Ada Riset Khusus

    Halmahera Kaya Jenis Anggrek, Belum Ada Riset Khusus

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.068
    • 0Komentar

    Kekayaan keanekaragaman hayati di Halmahera dan pulau-pulau  sekitarnya tidak tepermanai.  Tak hanya satwa, jenis tumbuhan terutama yang endemic juga masih butuh riset untuk menemukan lebih banyak jenisnya.  Salah satu jenis flora yang  belum juga mendapatkan perhatian dalam bentuk riset adalah jenis anggrek atau  Orchidaceae.  Dosen Jurusan Biologi Universiteras Khairun Ternate Dr Naser Tamalene yang banyak […]

  • Peneliti Unkhair Coba Domestikasi Kepiting Kenari di Gemia Patani

    Peneliti Unkhair Coba Domestikasi Kepiting Kenari di Gemia Patani

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 416
    • 0Komentar

    Halmaherapedia— Kepiting kenari atau birgus latro adalah salah satu sumber daya perikanan di Maluku Utara. Potensi ini berada di hamper semua pulau di Maluku Utara.salah satunya di  Desa Gemia Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah. Untuk mengelola secara berkelanjutan sumberdaya alam ini  agar tidak habis di alam, maka perlu dilakukan pembudidayaan. Selama ini masyarakat masih mengandalkan […]

  • Warga Obi Sulit Air Bersih, Tagih Janji Bupati  

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 686
    • 1Komentar

    Air bersih menjadi kebutuhan paling urgen. Mulai dari makan minum hingga  mandi, cuci dan kakus (MCK). Setidaknya, hal ini juga sedang dialami warga  Desa Aer Mangga Kecamatan Obi Pulau Obi Halmahera Selatan. Saat kabarpulau co.id mengunjungi Desa itu Senin (6/2/2023) pekan lalu, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat menyuarakan  keluhannya terkait masalah yang mereka hadapi […]

  • Perempuan Tobaru Kembangkan Pangan Lokal

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 735
    • 1Komentar

    Dorci Polu (56) dan suaminya Herman Ime (60) Jumat siang di pertengahan Februari lalu itu duduk di depan rumah. Hari itu mereka  belum ke kebun  yang  berjarak sekira 3 kilometer dari Desa Togoreba Tua Kecamatan Tabaru Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara. Herman Ime duduk di  kursi sambil menatap ke arah jalan raya. Sementara Dorci langsung […]

expand_less